Perjalanan Spiritual Sekaligus Psikologis

Sumber: bukukita

Judul Buku: Tsukuru Tazaki tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya
Pengarang: Haruki Murakami
Penerjemah: Ribeka Ota
Cetakan: Pertama, April 2018
Halaman: v + 345 hlm
Penerbit: Keputakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta


Ingatan adalah juru tulis Jiwa

(Plato)

 

Seorang mahasiswa semester III yang tengah kuliah di Tokyo, ketika libur panjang bermaksud pulang ke kampung halamannya di Nagoya. Seperti kebiasaan yang sudah-sudah, ia akan menghubungi 4 orang teman dekatnya. Mereka adalah Aka (merah), Ao (biru), Shiro (putih) dan Kuro (hitam).

Tidak seperti biasanya, dengan berbagai alasan, tidak seorang pun dari keempat temannya itu mau mengangkat telpon saat si mahasiswa berusaha menghubungi. Ia mencium adanya gelagat buruk dari perubahan sikap dan respon teman-temannya yang ganjil. Si mahasiswa menduga telah terjadi sesuatu, meski ia sendiri tidak benar-benar bisa memastikan.

Kelak dari peristiwa tersebut, Tsukuru Tazaki, nama si mahasiswa, yang sekaligus protagonis novel ini, terjatuh dalam kehampaan hidup hingga 16 tahun lamanya. Bermula dari peristiwa yang teramat mengganjal pikirannya itu: sikap aneh teman-teman dekatnya tanpa ia mengerti.

Karena dibuang oleh 4 orang temannya, ia seperti menjadi manusia terkucil. Dirundung siksaan mental dan psikologi. Kehilangan selera pada segala, termasuk makanan, membuat berat badannya turun drastis.

Baju-baju yang selama ini ia kenakan melorot. Bahkan sempat disambangi keinginan bunuh diri selama setengah tahun. Pada suatu ketika, pelan-pelan Tsukuru bangkit, dan—meminjam narasi di halaman 65—“hari-hari di Nagoya pun berangsur-angsur mundur ke masa lampau.”

Dengan menggunakan penuturan orang ketiga, novel Tsukuru Tazaki berbahan baku nostalgia masa lalu dan rasa kehilangan (teralienasi) pada diri si tokoh utama. Ziarah panjang ingatan dengan orang-orang di masa lalunya, lantas perjuangannya untuk menemui mereka kembali satu demi satu di masa depan, menjadi gagasan utama kisah prosa ini. Bahkan, perjuangannya di masa depan itu, mengisi dua per tiga novel.

Kalau boleh bilang, ini merupakan novel perjalanan spritual sekaligus psikologis si protagonis guna menemukan dirinya kembali dengan cara bertetirah, tersebab efek dibuang dari masa lalu oleh orang-orang dekat. Kelak Tsukuru di masa depan menjadi orang yang berbeda, setelah perjuangannya yang berat menghadapi kenyataan dikucilkan. Ia mengembalikan psikologinya (menyembuhkan diri) justru dengan berziarah ke masa lalunya, untuk membongkar realitas-realitas yang masih gelap dari pintu masa depan atas usul pacarnya, Sara Kimoto.

Di sepanjang novel, kita akan dihadapakan kepada ketegangan-ketegangan psikologis yang dihadapi Tsukuru saat di Nagoya, beberapa orang yang sempat menjadi kawan karibnya saat ia tetirah di Tokyo sembari kuliah, dan kelak juga melanjutkan bekerja di perusahaan kereta api (merancang stasiun).

Ya, jika dibanding novel-novel Murakami yang dikenal absurd nan sureal, warna realis novel ini paling dekat. Setidaknya, dalam urusan tuturan hubungan antarteman dan topik-topik perpisahan mendadak yang membingungkan: saat Tsukuru diusir dari kelompoknya dan disambangi keinginan bunuh diri, rasa-rasanya seperti situasi saat kita mendapati Kizuki tiba-tiba memutuskan bunuh diri juga di lembar awal Norwegian Wood. Dan kedua novel ini, saya kira, dalam gaya penuturan, mendapatkan ilham dan model dari novel pertama Murakami: Dengarlah Nyanyian Angin.

Tampak sekali di lembar-lembar awal novel, Murakami getol mengeksplorasi pesimisme, rasa terasing, dan kecemasan si tokoh, sampai pada tahap merasakan (kerinduan akan kematian) oleh gencetan alienasi dan rasa sepi. Sebagaimana novel-novelnya yang lain, meski novel Murakami yang ini terbilang realis, bau surealis dan absurditas-nya pun masih ada dan terasa.

Fragmen-fragmen sureal sebagai ciri khas prosa-prosa Murakami tersebut tak benar-benar lenyap, seperti saat ia meniduri Shiro dalam mimpinya; kisah temannya, Fumiaki Haida (sawah abu-abu), dan lelaki misterius, Pak Midorikawa (sungai hijau), yang memengaruhi hidup ayah Haida. Bahkan penyebab teka-teki yang dirancang di lembar-lembar awal novel, ihwal terlemparnya Tsukuru dari komunitasnya juga terbilang sureal: yakni imajinasi Shiro bahwa dirinya diperkosa Tsukuru. Sedang kenyataannya, Tsukuru tidak pernah melakukannya.

Tentu saja jika kita membacanya lurus dari awal, akan kita temui banyak kejutan, termasuk ihwal kisah cinta Tsukuru sendiri yang seperti menggantung. Tapi dibanding banyak hal di atas, yang bisa kita nikmati dan mungkin pelajari dari novel ini adalah bagaimana Murakami mengolah dunia batin si protagonis (watak dan kejiwaannya) dengan demikian subtil dan segar, secara jamak melalui teknik inner monologue: bagaimana ia membangun suasana suram, kedalaman monolog si protagonis dengan dirinya sendiri. Berpusat dari situasi dan perasaan aneh dari dalam jiwanya, di antaranya, karena faktor “nama Tsukuru Tazaki yang tidak mengandung warna”.

 

Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Pos, Minggu, 17 Juni 2018.

Esais, mengajar di Jurusan Sastra Arab, UIN Maliki, Malang.