Sumber: Pinterest

Pagi aku melihat Tony Gardner duduk di antara para turis, musim semi baru saja tiba di Venesia sini. Kami bereskan pekan padat pertama di luar di selasar—lega, kuberitahu, setelah segenap jam pengap tampil di bagian belakang kafe, menghalangi pelanggan yang hendak memakai tangga. Ada angin lembut pagi itu, dan tenda anyar kami berkirap di sekeliling, tapi kami semua merasa agak lebih cerah dan segar, dan kukira itu terlihat dalam musik kami.

Namun di sini aku bicara sebagai anggota orkes tetap. Sebenarnya aku salah satu dari “para gipsi”, demikian musikus lain menyebut kami, satu dari sekian orang yang berpindah-pindah selasar, membantu satu di antara tiga orkestra kafe yang memerlukan kami. Seringnya aku main di Caffè Lavena sini, tapi pada sore yang sibuk, aku dapat melangsungkan satu set bersama bocah-bocah Quadri, menyeberang ke Florian, lalu balik melintasi alun-alun ke Lavena. Aku bergaul baik dengan mereka semua—termasuk dengan para pelayan—dan di kota lain aku bisa berkedudukan tetap saat ini. Hanya di tempat ini, saking terobsesi dengan tradisi dan masa lampau, semua terbolak-balik. Di tempat lainnya, jadi pemain gitar bakalan masuk selera orang. Namun di sini? Penggitar! Manajer kafe menjadi gusar. Terlalu modern, para turis tidak akan suka. Musim gugur lalu, aku beroleh model jaz lawasan dengan lubang suara oval, macam yang pernah dimainkan Django Reinhardt, jadi tidak mungkin orang akan menyangkaku pemusik rokenrol. Itu membuat beberapa hal agak lebih gampang, tapi para manajer kafe, mereka tetap tidak menyukainya. Yang jelas, jika kau seorang gitaris, biarpun kau Joe Pass, mereka tetap tidak akan memberimu kerjaan tetap di alun-alun ini.

Ada pula, tentu saja, masalah kecil karena aku bukan orang Italia, jangan hiraukan orang Venesia. Sama halnya bagi pria besar Ceko dengan saksofon alto. Kami cukup disegani, kami dibutuhkan para musikus lain, tapi kami tidak cukup pantas dicap resmi. Main saja dan terus tutuplah mulutmu, itu yang selalu dikatakan manajer kafe. Dengan begitu para turis tidak akan tahu bahwa kau bukan orang Italia. Pakailah bajumu, kacamata, jaga agar rambut tersisir ke belakang, tidak ada yang akan tahu bedanya, pokok jangan mulai bicara.

Namun aku tidak begitu menggubrisnya. Ketiga orkestra kafe, terutama saat mereka harus main berbarengan dengan tenda pesaing, mereka pasti butuh gitar—sesuatu yang lembut, padat, tapi memperkuat, menyurung akor dari sisi belakang. Agaknya kau mengira, tiga orkes main bersamaan di alun-alun yang sama, itu pasti akan terdengar sangat kacau. Namun selasar San Marco cukup besar untuk menampungnya. Seorang turis yang jalan-jalan di alun-alun akan dengar satu lagu melirih, lainnya mengeras, seolah ia mengalihkan saluran radio. Justru yang tidak bisa terlalu banyak didengar oleh para turis adalah keklasikan ini, seluruh versi instrumental dari arias terkenal. Oke, ini San Marco, mereka tidak mau lagu pop hits terbaru. Namun tiap sekian menit mereka ingin sesuatu yang mereka kenali, mungkin satu nomor lawas Julie Andrews, atau sebuah tema dari film kondang. Aku ingat musim panas lalu, anjak dari orkes ke orkes dan memainkan The Godfather sampai sembilan kali dalam satu sore.

Demikianlah kami di pagi musim semi tersebut, bermain di depan sekerumun apik turis, saat aku melihat Tony Gardner, duduk sendirian mengopi, nyaris persis di hadapan kami, kira-kira enam meter dari tenda kami. Kami melihat banyak orang tenar di alun-alun sepanjang waktu, tidak pernah kami ambil pusing. Di akhir satu nomor, mungkin sebuah bisik akan mengeliling anggota orkes. Lihatlah, ada Warren Beatty. Lihat, itu Kissinger. Wanita itu, ialah yang ada di film tentang pria yang bertukar wajah. Kami terbiasa. Toh ini selasar San Marco. Namun saat kusadari Tony Gardner-lah yang duduk di sana, itu berbeda. Aku jadi bersemangat.

Tony Gardner adalah favorit ibuku. Kembali ke rumah, di hari-hari komunis, sangat sulit mendapat rekaman begitu, tapi ibuku punya hampir seluruh kumpulan lagunya. Sekali saat masih kecil, aku menggores salah satu rekaman berharga itu. Apartemen amat sempit, dan bocah lanang seumuranku, kadang-kadang kau mesti keliaran, terutama di bulan-bulan dingin saat kau tidak mungkin pergi keluar. Jadi aku sedang main lompat-lompatan dari sofa kecil ke kursi berlengan, dan satu ketika aku salah perhitungan dan menubruk pemutar rekaman. Jarum itu memintas rekaman dengan berderik—ini jauh sebelum CD jamak—dan ibuku masuk dari dapur dan mulai berteriak padaku. Aku merasa buruk sekali, bukan hanya karena beliau meneriakiku, tapi karena aku tahu itu salah satu rekaman Tony Gardner, dan aku paham seberapa berartinya itu bagi beliau. Dan aku pun tahu bahwa yang satu ini kini bakal berdecitan selagi ia melantunkan lagu-lagu Amerika itu. Bertahun-tahun kemudian, waktu aku bekerja di Warsawa dan aku mengenal pasar gelap rekaman, aku beri ibuku pengganti semua album Tony Gardner yang sudah rusak, termasuk yang kugores itu. Perlu tiga tahun lebih, tapi aku terus memperolehnya, satu demi satu, dan tiap kali pulang menemui beliau bakal kubawakan lainnya.

Jadi kau paham kenapa aku bersemangat sekali saat kulihat lelaki itu, berjarak sekitar enam meter. Mulanya aku tidak cukup yakin, dan aku mungkin agak telat ganti akor. Tony Gardner! Apa yang akan diucap ibu terkasihku andai beliau tahu! Demi beliau, demi kenangan beliau, aku mesti beranjak dan mengucap sesuatu pada lelaki itu, persetan jika musikus lain ketawa dan menyebut aku bertindak seperti pelayan.

Namun tentu aku tidak bisa begitu saja menyingkirkan meja dan kursi, bergegas menghampirinya. Ada set yang mesti kami selesaikan. Ketahuilah, tiga-empat nomor berikut merupakan penderitaan, dan tiap detik aku berpikir ia akan beranjak dan berjalan menjauh. Namun ia tetap duduk di sana, sendirian, memandangi kopinya, mengaduk seolah ia benar-benar bingung dengan apa yang telah disajikan pelayan baginya. Ia tampak seperti turis lain dari Amerika, mengenakan hem polo biru pucat dan celana abu-abu kedodoran. Rambutnya, yang sangat gelap dan amat mengilap di sampul rekaman itu, hampir putih sekarang, tapi masih rembaka, dan tersisir rapi dengan gaya yang seperti dulu. Saat pertama melihatnya, ia pegang kacamata hitam di tangan—entah apakah aku akan mengenalinya jika tidak begini—tapi selagi set kami berlanjut dan aku terus mengamati, ia mengenakan benda itu di wajah, melepasnya lagi, lantas memakainya kembali. Ia kelihatan khusyuk, dan kecewalah aku mengetahui ia tidak sungguh mendengarkan musik kami.

Lalu set kami usai. Aku tergopoh keluar dari tenda tanpa berucap apa pun pada yang lain, melangkah ke meja Tony Gardner, lalu sejenak panik tidak tahu bagaimana memulai pembicaraan. Aku berdiri di belakangnya, tapi semacam indera keenam membuat ia berbalik dan menatapku—kurasa sudah bertahun-tahun para penggemar datang padanya—dan setelah itu aku memperkenalkan diri, menjelaskan betapa aku mengaguminya, bagaimana aku ada di orkes yang barusan ia dengarkan, betapa ibuku menjadi penggemar berat, seluruhnya dalam keterburu-buruan. Ia mendengarkan dengan rona serius, mengangguk tiap sekian detik sekali seolah ia dokterku. Aku terus bicara dan yang diucapnya sesekali cuma: “O, ya?” Setelah sementara kupikir sudah waktunya pergi, dan aku mulai menjauh ketika ia berkata:

“Jadi kau berasal dari salah satu negara komunis. Pastilah sulit.”

“Semua itu masa lalu.” Aku semringah mengangkat bahu. “Kini kami adalah negara bebas. Demokrasi.”

“Kedengarannya bagus. Dan krumu yang main buat kami barusan. Duduklah. Kau mau kopi?”

Kubilang padanya aku tidak ingin merepotkan, tapi kini ada suatu desakan halus dari Tn. Gardner. “Tidak, tidak, duduklah. Kau bilang, ibumu menyukai rekamanku.”

Jadi aku duduk dan berkisah lebih banyak. Tentang ibuku, apartemen kami, rekaman pasar gelap. Dan meski aku tidak bisa mengingat apa judul album itu, aku mulai memerikan gambar sampulnya seingatku, dan tiap kali aku lakukan ini, ia acungkan jarinya ke udara dan mengatakan hal semacam: “O, itu pasti Inimitable. The Inimitable Tony Gardner.” Kupikir kami berdua sangat menikmati kelakar ini, tapi kemudian kudapati pandangan Tn. Gardner beralih dariku, dan aku berbalik seketika melihat seorang perempuan mendekat ke meja kami.

Ia satu dari para perempuan serbamegah Amerika, dengan rambut, pakaian dan sosok yang menawan, kau takkan sadar bahwa mereka tidak begitu muda sampai kau lihat mereka dari dekat. Dari jauh, aku mengiranya seorang model di majalah busana mengilap. Namun demikian ia duduk di samping Tn. Gardner dan menekan kacamata hitamnya ke dahi, aku tahu paling tidak ia berumur lima puluh, mungkin lebih. Tn. Gardner berkata padaku, “Ini Lindy, istriku.”

Ny. Gardner menyapaku dengan senyum yang agaknya dipaksakan, lalu berucap pada suaminya: “Jadi, siapa ini? Kau mendapat seorang kawan.”

“Benar, Sayang. Aku senang berbincang di sini dengan… maaf, Kawan, aku tidak tahu namamu.”

“Jan,” sahutku cepat. “Tapi teman-teman memanggilku Janeck.”

Lindy Gardner berkata, “Maksudmu, panggilanmu lebih panjang dari nama aslimu? Bagaimana bisa?”

“Jangan bersikap kasar ke pria itu, Sayang.”

“Aku bukan bersikap kasar.”

“Jangan memperolok nama pria itu, Sayang. Begitulah gadis yang baik.”

Lindy Gardner menoleh padaku dengan ekspresi tanpa daya. “Kau mengerti apa yang dikatakannya? Apa aku menghinamu?”

“Tidak, tidak,” kataku, “sama sekali tidak, Ny. Gardner.”

“Ia selalu menyebut aku kasar terhadap publik. Tapi aku tidak kasar. Apa menurutmu aku kasar barusan?” Lalu ke Tn. Gardner: “Aku bicara ke publik dengan cara yang lumrah, Kekasih. Ini cara aku. Aku tidak pernah kasar.”

“Oke, Sayang,” kata Gardner, “jangan memperbesar hal tersebut. Lagi pula, pria yang di sini ini, ia bukan orang kebanyakan.”

“O, bukan? Lalu apakah ia? Ponakan yang sudah lama hilang?”

“Baik-baiklah, Sayang. Pria ini, ia kolega. Seorang musikus, seorang pro. Ia baru saja menghibur kita semua.” Ia menunjuk ke tenda kami.

“O, benar!” Lindy Gardner kembali menoleh padaku. “Kau yang bermain di sana barusan? Ya, itu tadi keren. Kau di akordeon, ‘kan? Sungguh keren!”

“Terima kasih banyak. Sebetulnya, aku gitaris.”

“Gitaris? Kau bercanda. Aku baru menontonmu satu menit lalu. Duduk di sana, di samping pria kontrabas, memainkan akordeonmu dengan begitu indah.”

“Maaf, sebenarnya yang di akordeon itu Carlo. Pria botak besar…”

“Kau yakin? Tidak bercanda?”

“Sayang, sudah kubilang. Jangan bersikap kasar ke pria itu.” Lelaki itu tidak berteriak penuh, tapi suaranya keras dan gusar mendadak, dan kini muncul kebungkaman yang janggal. Lalu Tn. Gardner memecahkannya, berkata lembut:

“Maafkan aku, Sayang. Bukan maksudku membentakmu.” Ia menganjurkan sebelah tangan dan menggenggam satu tangan perempuan itu. Aku agak berharap perempuan itu menepiskannya, tapi alih-alih demikian, ia memindah kursi sehingga lebih dekat dengan lelaki itu, dan menaruh tangan yang langgas pada sepasang tangan mereka yang bergenggam. Mereka duduk di sana begitu selama sekian detik, Tn. Gardner, kepalanya tunduk, sang istri menatap hampa melampaui bahunya, menyeberang alun-alun menuju Basilika, sekalipun matanya bagai tidak melihat apa-apa. Dalam kesesaatan itu seolah keduanya bukan hanya melupakanku yang duduk dengan mereka, tapi juga semua orang di selasar. Lalu perempuan itu berucap, nyaris bisik:

“Tidak apa, Kekasih. Itu salahku. Membuatmu kesal.”

Mereka masih duduk seperti itu hingga sebentar kemudian, tangan berkuncian. Lalu perempuan itu berdesah, melepas Tn. Gardner dan menatapku. Ia pernah memandangiku tadi, tapi kali ini berbeda. Kali ini aku bisa rasakan pesonanya. Rasanya seolah ia punya tombol penyetel, dari nol sampai sepuluh, dan bersamaku, pada saat itu, ia pilih mengubahnya jadi enam atau tujuh, tapi aku bisa rasakan itu sedemikian kuat, dan jika ia memintaku—misalnya ia menyuruhku melintasi alun-alun dan beli kembang—akan kulakukan itu dengan senang.

“Janeck,” ucapnya. “Itu namamu, ‘kan? Maafkan aku, Janeck. Tony benar. Aku tidak bermaksud apa-apa bicara padamu dengan caraku itu.”

“Ny. Gardner, sungguh, tolong jangan dirisaukan…”

“Dan aku mengganggu kalian berdua berbincang. Perbincangan musikus, aku yakin. Tahukah? Aku akan permisi agar kalian berdua melanjutkannya.”

“Tidak ada alasan untuk pergi, Sayang,” kata Tn. Gardner.

“O, ya ada, Kekasih. Aku sungguh kangen melihat-lihat di toko Prada itu. Aku kemari tadi hanya untuk memberitahumu aku akan lebih lama dari yang kubilang.”

“Oke, Sayang.” Tony Gardner menegakkan diri untuk pertama kali dan menghela napas dalam-dalam. “Asalkan kau yakin kau bahagia melakukannya.”

“Aku akan bersenang-senang dalam toko itu. Jadi kalian dua sekawan, kalian punya obrolan yang bagus.” Ia beranjak dan menyentuh pundakku. “Kau jaga dirilah, Janeck.”

Kami melihatnya berjalan pergi, lalu Tn. Gardner menanyaiku beberapa hal tentang menjadi musikus di Venesia, dan tentang orkestra Quadri secara khusus, yang mulai bermain di saat tersebut. Ia tidak tampak bersungguh-sungguh mendengar jawabanku, dan aku hampir bermohon diri lalu pergi ketika ia tiba-tiba berkata:

“Ada yang hendak kusampaikan padamu, Kawan. Biarkan aku katakan isi pikiranku dan kau boleh membantahku jika itulah yang kau mau.” Ia merunduk maju dan melirihkan suaranya. “Boleh aku bercerita? Kali pertama Lindy dan aku datang ke Venesia, itu bulan madu kami. Dua puluh tujuh tahun silam. Dan demi seluruh kenangan indah kami akan tempat ini, kami belum pernah kembali, tidak secara berbarengan. Jadi saat merencanakan pesiar ini, pesiar istimewa kami ini, kami sama-sama menyebutkan kami harus habiskan beberapa di Venesia.”

“Ini hari jadi kalian, Tn. Gardner?”

“Hari jadi?”

“Maaf,” kataku. “Aku hanya mengira, karena kau sebut ini pesiar istimewamu.”

Ia termangu-mangu beberapa lama, lalu ia tertawa, bahak mengakak meledak-ledak, dan mendadak aku ingat sebuah lagu yang tiap waktu disetel ibuku, di mana ada bagian lelaki itu nyocot di tengah lagu, sesuatu tentang tidak peduli perempuan telah meninggalkannya, dan ia tertawa mengolok. Kini tawa yang sama itu meledak di alun-alun. Lalu ia berkata:

“Hari jadi? Bukan, bukan, ini bukan hari jadi kami. Tapi yang aku usulkan ini tidak beda jauh. Karena aku ingin melakukan sesuatu yang sangat romantis. Aku ingin berserenade untuknya. Pasnya, gaya Venesia. Di situlah kau masuk. Kau mainkan gitarmu, aku bernyanyi. Kita lakukan itu dari gondola, kita terambang di bawah jendela, aku bernyanyi mengatas padanya. Kami menyewa palazo tidak jauh dari sini. Jendela kamarnya menghadap kanal. Lepas gelap, itu bakal sempurna. Lampu-lampu di dinding menyala dengan pas. Kau dan aku di sebuah gondola, ia mendekat ke jendela. Seluruh nomor kesukaannya. Kita tidak perlu berlama-lama, malam hari toh cukup dingin. Tiga atau empat lagu saja, itu yang ada dalam pikiranku. Akan kupastikan kau berimbalan bagus. Apakah katamu?”

“Tn. Gardner, aku akan sangat terhormat. Seperti kubilang, kau telah menjadi sosok penting bagiku. Kapankah sekiramu ini dilakukan?”

“Kalau tidak hujan, kenapa tidak malam nanti? Sekitar setengah sembilan? Kami makan malam lebih awal, jadi kami sudah kembali saat itu. Aku akan buat beberapa alasan, tinggalkan apartemen, datang dan menemuimu. Akan kupersiapkan satu gondola, kita akan berbalik lewat kanal, berhenti di bawah jendela. Pasti sempurna. Apakah katamu?”

Kau mungkin membayangkan ini seolah mimpi jadi kenyataan. Dan lagi, gagasan ini kelihatan manis, pasangan ini—lelakinya 60-an, perempuan 50-an—bertingkah bagai remaja kasmaran. Faktanya gagasan ini sangat manis hingga nyaris, meski belum cukup, membuatku lupa adegan yang tadi kusaksikan antara mereka. Yang kumaksud adalah, bahkan di tahapan itu, jauh di lubuk hati aku tahu bahwa banyak hal tidak akan sepersis yang ia rencanakan.

Untuk sekian menit berikutnya, Tn. Gardner dan aku duduk di situ membahas tiap rinciannya—lagu mana yang ia mau, kunci yang pas baginya, segala hal macam itu. Lalu tiba saat aku kembali ke tenda dan set kami berikutnya, lantas aku berdiri, menjabat tangannya dan bilang bahwa ia pasti akan dapat mengandalkanku malam nanti.

*

Jalanan gelap dan lengang selagi aku pergi menemui Tn. Gardner malam itu. Pada hari-hari itu aku selalu kesasar tiap kali beranjak terlalu menjauhi selasar San Marco, karenanya meski telah kusediakan waktu lebih, meski aku tahu letak jembatan kecil yang dimaksudkan Tn. Garner, tetap saja aku telat sekian menit.

Ia berdiri persis di bawah sebuah lampu, mengenakan jas gelap kusut, dan kemejanya terbuka hingga tiga atau empat kancing, jadi kau bisa lihat bulu-bulu di dadanya. Demikian aku minta maaf karena terlambat, ia berkata:

“Apakah sekian menit? Lindy dan aku sudah menikah dua puluh tujuh tahun. Apakah sekian menit?”

Ia tidak marah, tapi suasana hatinya tampak murung dan muram—sama sekali tidak romantis. Di belakangnya ada gondola, bergoyangan lembut di air, dan kulihat si juru dayung adalah Vittorio, pria yang tidak begitu kusuka. Di mukaku, Vittorio memang selalu akrab, tapi aku tahu—aku tahu sedari dulu—ia berkeliling mengucap segala macam hal buruk, semuanya sampah, tentang orang sepertiku, orang yang ia sebut “pendatang dari negeri baru”. Itulah kenapa, saat malam itu ia menyapaku seolah saudara, aku hanya mengangguk, dan berdiam menunggu sementara ia bantu Tn. Gardner masuk gondola. Lalu aku menyodorkan gitarku padanya—kubawa gitar Spanyolku, bukan yang berlubang suara oval itu—dan masuk sendiri.

Tn. Gardner terus bergeser posisi di bagian depan lambu, dan di suatu titik terduduk sedemikian memberat kami hampir terjungkal. Namun agaknya ia tidak memperhatikan dan ketika kami bergerak, ia masih memandang ke air.

Selama beberapa menit kami mengarus dengan hening, melintas bangunan gelap dan bawah jembatan rendah. Lalu ia muncul dari pikiran mendalamnya dan berkata:

“Dengarlah, Kawan. Aku tahu kita menyepakati set malam ini. Namun aku terpikir. Lindy suka lagu itu, By the Time I Get to Phoenix. Aku merekamnya dulu sekali.”

“Tentu, Tn. Gardner. Ibuku selalu bilang versimu lebih baik dari punya Sinatra. Atau dari Glen Campbell yang tenar itu.”

Tn. Gardner mengangguk-angguk, lalu sejenak aku tidak dapat melihat wajahnya. Vittorio membuat pekikan juru dayungnya bergema di seputar tembok sebelum mengarahkan kami ke sebuah kelokan.

“Aku sering menyanyikan itu buatnya,” kata Tn. Gardner. “Kau tahu, kupikir ia ingin mendengarkannya malam ini. Kau akrab dengan nadanya?”

Gitarku sudah keluar dari wadah pada saat ini, jadi aku mainkan beberapa bar lagu tersebut.

“Naikkan,” katanya. “Sampai E-flat. Itulah yang kulakukan dalam album.”

Jadi aku mainkan akor di kunci itu, dan mungkin setelah satu bait terlampaui, Tn. Gardner mulai bernyanyi, amat lembut, di bawah napas, seolah ia hanya setengah ingat kata-katanya. Namun suaranya berdengung apik di kanal tenang itu. Sungguh, terdengar sangat indah. Dan untuk sesaat rasa-rasanya aku kembali bocah, balik ke apartemen, berbaring di karpet sementara ibuku duduk di sofa, kelelahan, atau mungkin patah hati, selagi album Tony Gardner berputar di sudut ruangan.

Tn. Gardner tiba-tiba menyetop dan berkata, “Oke. Kita main Phoenix di E-flat. Lalu mungkin I Fall in Love Too Easily, sesuai rencana kita. Dan kita tutup dengan One for My Baby. Itu cukup. Ia tidak akan mendengar selebihnya.”

Setelah itu ia tampak kembali tenggelam ke dalam pikiran, dan kami pun melaju lewat kegelapan dengan percik suara lembut Vittorio.

“Tn. Gardner,” kataku akhirnya, “kuharap kau tidak keberatan aku bertanya. Tapi apa Ny. Gardner mengira resital ini? Atau apa ini akan jadi kejutan indah?”

Ia menghela napas dalam-dalam, lalu berkata: “Kurasa kita mesti masukkan ini dalam kategori kejutan indah.” Lalu ia menambah: “Tuhan tahu bagaimana ia bakal bereaksi. Kita mungkin tidak akan sampai One for My Baby.”

Vittorio mengarahkan kami lewat kelokan lainnya, dan seketika ada tawa dan musik, dan kami berapung melalui sebuah restoran besar yang terang benderang. Tiap meja agaknya terpesan, para pelayan terburu-buru, para pengunjung tampak sangat senang, meski sisi kanal tidak begitu hangat di musim begini. Setelah diam dan gelap yang telah kami lampaui, restoran itu terasa mengganjal. Rasanya seperti kamilah yang mandek, nonton dari dermaga, selagi lambu gilang gemerlap ini meluncur. Aku lihat beberapa wajah menghadap ke arah kami, tapi tidak ada yang begitu menghiraukan kami. Lalu restoran itu ada di belakang kami, dan aku berkata:

“Ini lucu. Bisa kau terka apa yang akan turis-turis itu lakukan jika mereka tahu sebuah lambu yang barusan lewat membawa si legendaris Tony Gardner?”

Vittorio, yang tidak begitu paham bahasa Inggris, tanggap maksudnya dan tertawa pendek. Namun untuk beberapa lama Tn. Gardner tidak menyahut. Kami kembali ke dalam gelap, bergerak menyusuri kanal sempit lewat pintu remang-remang, saat ia berkata:

“Kawanku, kau berasal dari negara komunis. Itulah sebab kau tidak mengerti bagaimana hal ini bekerja.”

“Tn. Gardner,” kataku, “negaraku tidak komunis lagi. Kini kami orang bebas.”

“Maaf. Aku bukan bermaksud mencemarkan bangsamu. Kau orang berani. Semoga kau menangkan kedamaian dan kemakmuran. Tapi yang hendak kukatakan padamu, Kawan, yang kumaksudkan adalah bahwa berasal dari tempatmu, cukup lumrah, ada banyak hal yang belum kau mengerti. Sebagaimana banyak yang tidak aku mengerti tentang negaramu.”

“Kukira demikian, Tn. Gardner.”

“Orang-orang yang baru saja kita lewati itu. Jika kau datangi mereka dan berkata, ‘Woi, ada di antara kalian yang ingat Tony Gardner?’ maka sebagian dari mereka, bahkan kebanyakan, mungkin mengatakan iya. Siapa mengira? Tapi berapung-apung dengan cara yang kita lakukan, sekalipun mereka mengenaliku, akankah mereka jadi senang? Aku kira tidak. Mereka tidak akan menaruh garpu, mereka tidak akan menyelang jamuan berlilin dari hati ke hati mereka. Ngapain? Toh cuma pelagu dari zaman lawas.”

“Aku tidak bisa percaya itu, Tn. Gardner. Kau klasik. Kau seperti Sinatra atau Dean Martin. Beberapa hal klasik tidak bakal ketinggalan zaman. Tidak seperti bintang pop kini.”

“Kau baik sekali mengatakan itu, Kawan. Aku tahu maksudmu baik. Tapi malam ini bukan waktunya menggurauiku.”

Aku hendak protes, tapi sesuatu pada tindak tanduknya menyuruhku menanggalkan seluruh pokok bahasan. Jadi kami lanjut bergerak, tidak seorang pun bicara. Jujur, kini aku mulai mempertanyakan apakah yang telah kumasuki, apakah maksud seluruh serenade ini. Dan ini gaya Amerika, bagaimanapun. Yang kutahu, saat Tn. Gardner mulai bernyanyi, Ny. Gardner akan menghampiri jendela dengan bedil dan menembaki kami.

Mungkin pikiran Vittorio berkisar di lajur serupa, karena begitu kami melintas di bawah lentera pada sisi tembok, ia memberiku tatap seolah hendak berucap: “Kita membawa hal aneh di sini, ya, amico?” Namun aku tidak menyahut. Aku tidak mau berpihak pada orang semacamnya untuk melawan Tn. Gardner. Menurut Vittorio, para pendatang sepertiku, kami berkeliaran menyamun turis-turis, mengotori kanal, pada umumnya merusak seisi kota bedebah ini. Kali lain, jika ia bersuasana hati buruk, ia bakal mendakwa kami perampok—perogol, bahkan. Sekali kutanyakan padanya benarkah ia mengucap hal-hal begitu, dan ia bersumpah bahwa semua itu onggokan dusta. Mana mungkin ia jadi rasis sementara punya tante Yahudi yang ia puja bagaikan ibu? Namun suatu sore aku membunuh waktu di sela set, bersandaran pada jembatan di Dorsoduro, dan sebuah gondola melintas di bawah. Ada tiga turis duduk di dalamnya, dan Vittorio berdiri di sisian mereka dengan membawa dayung, bertindak agar didengar dunia, mengucapkan sampah yang sama persis tadi. Jadi silakan ia bertemu mataku sekehendaknya, ia takkan beroleh persahabatan dariku.

“Biar kuceritakan sedikit rahasia,” kata Tn. Gardner tiba-tiba. “Satu rahasia kecil soal pementasan. Dari dan bagi sesama pro. Cukup simpel. Kau harus tahu sesuatu, tidak peduli apa pun itu, kau harus tahu sesuatu tentang audiensmu. Sesuatu yang bagimu, di pikiranmu, membedakan audiens itu dengan yang kau hibur di malam sebelumnya. Katakan kau ada di Milwaukee. Kau harus menanyai diri sendiri, apa yang beda, apa yang istimewa dari audiens Milwaukee? Apa yang membuatnya lain dari penonton di Madison? Kalau tidak terpikir apa-apa, teruslah mencoba sampai kau mampu. Milwaukee, Milwaukee. Mereka punya daging babi bagus di Milwaukee. Itu akan berhasil, itulah yang kau pakai saat melangkah ke luar sana. Tidak perlu mengucapnya sepatah kata pun pada mereka, ini adalah sesuatu dalam pikiranmu saat kau bernyanyi buat mereka. Orang-orang di hadapanmu, merekalah pemakan daging babi bagus itu. Mereka punya patokan tinggi mengenai daging babi. Kau mengerti yang kukatakan? Dengan begitu penonton jadi seseorang yang kau kenali, seseorang yang dapat kau hibur. Nah, itulah rahasiaku. Dari dan bagi sesama pro.”

“Baik, terima kasih, Tn. Gardner. Aku tidak pernah berpikir demikian. Satu petunjuk dari orang sepertimu, aku takkan melupakan itu.”

“Jadi malam ini,” ia melanjutkan, “kita berpentas buat Lindy. Lindy-lah si penonton. Jadi akan kuberitahu kau sesuatu tentang Lindy. Kau mau dengar soal Lindy?”

“Tentu, Tn. Gardner,” kataku. “Aku sangat mau mendengar tentangnya.”

*

Sampai kira-kira dua puluh menit berikutnya, kami duduk dalam gondola itu, berputar-putar, sementara Tn. Gardner bicara. Terkadang suaranya surut menjadi gumam, seolah ia bicara sendiri. Kali lain, saat lampu atau jendela yang terlewati menerangi lambu kami, ia teringat padaku, mengeraskan suaranya, dan mengatakan hal semacam: “Kau mengerti apa yang aku katakan, Kawan?”

Istrinya, lelaki itu menceritaiku, berasal dari satu kota kecil di Minnesota, di tengah Amerika, tempat para guru sekolah memberinya masa sulit karena ia selalu melihat majalah bintang film alih-alih belajar.

“Yang tidak disadari emak-emak ini adalah Lindy punya rencana besar. Dan lihatlah ia sekarang. Kaya, cantik, berkelana ke seluruh dunia. Dan para guru sekolah itu, di mana mereka hari ini? Hidup macam apa yang mereka lakoni? Jika mereka melihat sedikit lebih banyak majalah film, punya sedikit lebih banyak mimpi, mereka pun mungkin beroleh sebagian dari apa yang Lindy punyai hari ini.”

Di usia sembilan belas, perempuan itu menumpang ke California, berharap sampai ke Hollywood. Namun ia malah mendapati dirinya berada di perbatasan Los Angeles, kerja sebagai pelayan di kedai pinggir jalan.

“Suatu kejutan,” kata Tn. Gardner. “Kedai ini, tempat kecil biasa di samping jalan raya ini. Ternyata ini jadi tempat terbaik yang dapat ia lakoni. Karena di situlah para gadis ambisius datang, pagi sampai malam. Mereka biasa ketemuan di sana, tujuh, delapan, selusin mereka, memesan kopi, memesan hotdog, berjam-jam duduk di sana dan mengobrol.”

Para gadis ini, semuanya lebih tua sedikit dari Lindy, datang dari berbagai bagian di Amerika dan telah berada di wilayah LA setidaknya selama dua atau tiga tahun. Mereka datang ke kedai untuk bertukar gosip dan cerita nasib buruk, membahas taktik, mengecek kemajuan masing-masing. Namun tontonan utama di tempat itu adalah Meg, perempuan berumur empat puluhan, pelayan yang bekerja bareng Lindy.

“Bagi para gadis ini Meg adalah kakak perempuan mereka, sumber kebijaksanaan mereka. Karena jauh sebelumnya, ia pernah seperti mereka. Kau harus pahami, mereka ini gadis-gadis serius, sangat ambisius, para gadis terpilih. Apa mereka membincangkan pakaian dan sepatu dan riasan sebagaimana gadis lainnya? Tentu saja. Tapi mereka hanya bicara tentang pakaian dan sepatu dan riasan yang bakal menolong mereka menikahi idola. Apa mereka membincangkan film? Apa mereka membincangkan skena musik? Tentulah! Tapi mereka bicara tentang bintang film dan penyanyi mana yang lajang, mana yang nikahnya tidak bahagia, mana yang segera bercerai. Dan Meg, tahu kau, ia bisa ceritakan semua ini, dan banyak, amat banyak. Meg telah melakoni jalan itu sebelum mereka. Ia paham seluruh aturan, seluruh trik, terkait menikahi idola. Dan Lindy duduk bersama mereka dan menyerap semuanya. Kedai hotdog kecil itu adalah Harvard baginya, adalah Yale. Gadis sembilan belas tahun dari Minnesota? Itu membuatku bergidik sekarang, berpikir apa yang mungkin terjadi padanya. Tapi ia beruntung.”

“Tn. Gardner,” kataku, “maaf karena aku menyela. Tapi kalau Meg ini begitu bijak dalam segala hal, bagaimana bisa ia sendiri tidak menikahi idola? Kenapa ia menyajikan hotdog di kedai tersebut?”

“Pertanyaan bagus, tapi kau kurang memahami cara hal ini bekerja. Oke, perempuan ini, Meg, ia tidak berhasil. Namun intinya, ia menyaksikan orang-orang yang berhasil. Kau paham, Kawan? Dulu ia pernah seperti para gadis itu, dan ia melihat sebagian yang sukses, lainnya gagal. Ia pernah melihat perangkap, ia pernah melihat tangga emas. Ia bisa kisahkan semua cerita dan para gadis itu mendengar. Dan sebagian dari mereka belajar. Lindy, salah satunya. Seperti kubilang, itulah Harvard-nya. Itu membentuk dirinya. Memberi daya yang mungkin ia perlukan nantinya, dan amboi, memang ia perlukan. Perlu waktu enam tahun sebelum kesempatan pertamanya tiba. Bisa kau bayangkan? Enam tahun bermanuver, berencana, menempatkan diri pada garis semacam itu. Terpukul balik lagi dan lagi. Tapi ini seperti halnya urusan kita. Kau tidak bisa berguling dan menyerah setelah sekian pukulan awal. Para gadis yang berbuat demikian, kau bisa lihat mereka di banyak tempat, menikah dengan yang bukan siapa-siapa dan bukan di kota manapun. Hanya sedikit dari mereka, yang seperti Lindy, mereka belajar dari setiap terpaan, mereka bangkit lebih kuat, lebih tangguh, mereka kembali bertarung dan mengamuk. Perasamu Lindy tidak menanggung penghinaan? Bahkan dengan kecantikan dan pesonanya? Yang orang tidak sadari adalah kecantikan begitu belumlah separuhnya. Salah-salah, kau diperlukan persis pelacur. Nah, setelah enam tahun, akhirnya ia beroleh kesempatan.”

“Itu saat ia bertemu denganmu, Tn. Gardner?”

“Aku? Bukan, bukan. Aku belum akan muncul dalam adegan untuk beberapa waktu. Ia menikahi Dino Hartman. Belum pernah dengar tentang Dino?” Tn. Gardner sekilas tertawa kasar di sini. “Dino malang. Kurasa rekaman Dino tidak berhasil sampai ke negara komunis. Tapi Dino cukup punya nama di masa itu. Ia banyak bernyanyi di Vegas, punya beberapa rekaman emas. Seperti kubilang, itulah kesempatan besar Lindy. Kali pertama aku bertemu dengannya, ia adalah istri Dino. Si tua Meg menjelaskan bahwa hal begitu terjadi setiap saat. Tentu, seorang gadis dapat langsung beruntung, meluncur ke puncak, menikahi Sinatra atau Brando. Namun itu tidak biasanya terjadi. Seorang gadis harus bersiap keluar dari lift di lantai dua, untuk jalan-jalan. Ia harus menyesuaikan dengan udara di lantai tersebut. Lalu barangkali, suatu hari, di lantai dua itu, ia lari ke seseorang yang turun dari penthouse untuk beberapa menit, mungkin untuk menjemput sesuatu. Dan orang itu bilang kepadanya, hei, bagaimana kalau kau kembali naik bersamaku, sampai ke lantai teratas. Lindy paham betapa itu biasa dimainkan. Ia tidak jadi lemah saat menikahi Dino, ia tidak memangkas ambisinya sehingga kecil. Dan Dino adalah pria baik. Aku selalu menyukainya. Itu sebabnya, meski aku gandrung pada Lindy sejak pertama melihatnya, aku tidak berulah. Aku lelaki sempurna. Aku kemudian tahu itulah yang membuat Lindy semakin bertekad. Bung, kau harus mengagumi gadis macam itu! Harus kuberitahu kau, Kawan, pada masa tersebut aku adalah bintang bersinar cemerlang. Aku rasa ini terjadi ketika ibumu mendengarkanku. Dino, betapapun, bintangnya lekas meredup. Sulit bagi banyak penyanyi waktu itu. Semua berubah. Para bocah mendengarkan The Beatles, Rolling Stones. Dino malang, ia terdengar kelewat mirip Bing Crosby. Ia buat sealbum bossanova yang hanya ditertawakan orang. Jelaslah saat bagi Lindy untuk menyingkir. Tidak seorang pun dapat menuduh kami macam-macam di situasi begitu. Bahkan aku tidak berpikir Dino sungguh menyalahkan kami. Jadi aku bergerak. Demikianlah cara ia naik ke puncak penthouse.

“Kami menikah di Vegas, kami minta hotel mengisi bak mandi dengan sampanye. Lagu yang bakal kita mainkan malam ini, I Fall in Love Too Easily. Kau tahu kenapa aku pilih itu? Kau mau tahu? Kami di London waktu itu, tidak lama setelah kami menikah. Kami naik ke ruangan kami setelah sarapan dan ada pelayan di sana membersihkan suite kami. Tapi Lindy dan aku sehorni kelinci. Jadi kami masuk, dan kami bisa dengar pelayan itu menyedot debu ruangan kami, tapi kami tidak dapat melihatnya, ia di sebalik penyekat. Jadi kami berjingkat menyelinap seolah kami masih bocah, tahu kau? Kami menyelinap masuk kamar tidur, menutup pintu. Kami mengerti pelayan itu sudah rampung membersihkan kamar, jadi mungkin ia tidak perlu kembali, tapi kami tidak tahu itu dengan pasti. Lain soal, kami tidak peduli. Kami robek pakaian kami, bercinta di ranjang, dan selama itu si pelayan di seberang lain, bergerak di dalam suite kami, tanpa tahu kami masuk. Sudah kubilang, kami horni, tapi setelah beberapa lama, kami sadari semuanya sangat lucu, kami terus tertawa. Lalu kami selesai dan kami terbaring di situ pada lengan satu sama lain, dan si pelayan masih di luar sana dan tahu kau apa, ia mulai bernyanyi! Ia selesai dengan penyedot debu, jadi ia mulai bernyanyi dengan puncak suaranya, dan amboi, suaranya sangat buruk! Kami tertawa dan tertawa, tapi berusaha tetap diam. Lalu tahukah kau, ia berhenti nyanyi dan menyalakan radio. Dan seketika kami mendengar Chet Baker. Dilagukannya I Fall in Love Too Easily, indah dan pelan dan lembut. Dan Lindy dan aku, kami hanya berbaring bersama melintang ranjang, mendengar nyanyian Chet. Dan setelah beberapa saat, aku ikut bernyanyi, teramat lamat, bernyanyi bersama Chet Baker di radio, Lindy meringkuk di pelukanku. Begitulah. Itu kenapa kita akan mainkan lagu tersebut malam ini. Aku memang tidak tahu apa ia masih ingat. Siapa juga yang tahu?”

Tn. Gardner berhenti bicara dan aku bisa lihat ia menyeka air mata. Vittorio membawa kami ke kelokan lain dan aku sadari bahwa kami akan melalui restoran untuk kali kedua. Terlihat lebih hidup ketimbang tadi, dan seorang pianis, pria ini kukenal bernama Andrea, kini sedang bermain di pojoknya.

Begitu kami kembali ke dalam gelap, aku berkata: “Tn. Gardner, ini bukan urusanku, aku mengerti. Namun aku bisa menerka beberapa hal mungkin tidak begitu bagus di antara kau dan Ny. Gardner akhir-akhir ini. Aku ingin kau tahu bahwa aku paham tentang hal-hal seperti itu. Ibuku seringkali menjadi sedih, mungkin sebagaimana dirimu sekarang. Beliau mengira telah menemukan seseorang, beliau sangat bahagia dan memberitahuku bahwa pria ini bakal menjadi ayah baruku. Beberapa saat pertama aku percaya. Setelanya, aku tahu itu tidak akan berhasil. Namun ibuku, beliau tidak pernah berhenti mempercayai. Dan setiap kali ia merasa jatuh, mungkin sepertimu malam ini, tahukah apa yang beliau lakukan? Beliau pasang rekamanmu dan ikut bernyanyi. Selama musim dingin panjang itu, dalam apartemen kecil milik kami, beliau duduk di sana, lutut lunglai di bawah, segelas sesuatu di tangan, dan beliau akan ikut menyanyi dengan lembut. Dan kadang, aku ingat ini, Tn. Gardner, tetangga kami di lantai atas bakal menggedor langit-langit, terutama saat kau melagukan nomor-nomor bertempo cepat, misalnya, High Hopes atau They All Laughed. Aku kerap memperhatikan ibuku dengan saksama, tapi seakan beliau itu tidak mendengar apa pun, beliau hanya mendengarkanmu, mengangguk-angguk sesuai ketukan, bibir bergerak mengikuti lirik. Tn. Gardner, aku ingin sampaikan padamu. Musikmu membantu ibuku melewati masa-masa tersebut, pasti telah menolong jutaan orang lain pula. Dan semestinya itu membantumu pula.” Aku terbahak pendek, yang kumaksudkan untuk memberi semangat, tapi muncul lebih keras dari yang kumau. “Kau bisa mengandalkanku malam ini, Tn. Gardner. Aku akan curahkan segala yang kupunya. Akan kubuat ini sebagus orkestra, lihat saja. Dan Ny. Gardner bakal mendengarkan kita dan siapa mengira? Mungkin segalanya akan mulai membaik di antara kalian. Tiap pasangan mengalami masa-masa sulit.”

Tn. Gardner tersenyum. “Kau pria manis. Aku hargai kau membantuku malam ini. Tapi kita tidak lagi punya waktu untuk berbincang. Lindy di kamarnya sekarang. Aku bisa lihat lampunya menyala.”

*

Kami melewati palazo yang sudah kami lalui sedikitnya dua kali tadi, dan aku kini sadar kenapa Vittorio membawa kami berputar-putar. Tn. Gardner mengamati nyala cahaya di satu jendela, dan setiap kali ia temukan itu masih gelap, kami pun bergerak membuat putaran lainnya. Namun sekarang jendela di tingkat tiga itu benderang, daunnya terbuka, dan dari tempat kami di bawah, kami bisa lihat sebagian kecil langit-langit dengan balok kayu gelap. Tn. Gardner memberi isyarat pada Vittorio, tapi ia memang sudah berhenti mendayung dan kami meluncur pelan sampai gondola berada persis di bawah jendela.

Tn. Gardner bangkit, membuat lambu kembali berguncang merisaukan, dan Vittorio harus gerak cepat untuk menstabilkan kami. Lalu Tn. Gardner memanggil-manggil, teramat sangat lamat: “Lindy? Lindy?” Akhirnya ia memanggil lebih keras: “Lindy!”

Sebuah tangan mendorong daun jendela membuka lebih lebar, lalu satu sosok muncul ke langkan sempit. Lentera tertempel pada tembok palazo tidak jauh di atas kami, tapi cahayanya kurang bagus, dan Ny. Gardner tidak lebih dari sekadar siluet. Namun aku bisa tahu bahwa ia sempat merapikan rambut karena aku bertemu dengannya di selasar, mungkin demi makan malam mereka tadi.

“Kaukah, Kekasih?” Perempuan itu membungkuki pagar langkan. “Kukira kau telah diculik atau apa. Kau membuatku cemas.”

“Jangan konyol, Sayang. Apa bisa terjadi di kota seperti ini? Lagipula, aku meninggalimu sebuah catatan.”

“Aku tidak melihat ada catatan, Kekasih.”

“Aku meninggalimu catatan. Hanya agar kau tidak merasa cemas.”

“Di mana catatannya? Apa yang dikatakan?”

“Aku tidak ingat, Sayang.” Tn. Gardner kini terdengar kesal. “Itu catatan biasa saja. Kau tahu, berkata bahwa aku pergi beli rokok atau sesuatu.”

“Itu yang kau lakukan di bawah sana sekarang? Beli rokok?”

“Bukan, Sayang. Ini hal lain. Aku mau bernyanyi untukmu.”

“Apa ini semacam lelucon?”

“Bukan, Sayang, ini bukan lelucon. Ini Venesia. Inilah yang orang lakukan di sini.” Ia berisyarat ke arahku dan Vittorio, seolah keberadaan kami di situ menguatkan maksudnya.

“Agak dingin rasanya di luar sini, Kekasih.”

Tn. Gardner berdesah dalam. “Kalau begitu kau bisa dengarkan dari dalam ruangan. Kembalilah masuk kamar, Sayang, buat dirimu nyaman. Cukup biarkan jendelanya terbuka dan kau akan mendengar kami dengan baik.”

Perempuan itu terus menatap ke bawah untuk sementara, dan si lelaki terus menatap balik ke atas, tidak seorang pun dari mereka berbicara. Lalu perempuan itu masuk, dan Tn. Gardner tampak kecewa, kendati memang inilah yang ia sarankan agar dilakukan. Ia menunduk sambil berdesah lagi, dan bisa kukatakan ia ragu untuk terus maju. Jadi aku bilang:

“Marilah, Tn. Gardner, kita mulai. Kita mainkan By the Time I Get to Phoenix.”

Dan aku mainkan lembut sedikit bagian pembukanya, belum ada ketukan, sesuatu yang mungkin mengarahkan masuk ke lagu atau justru dengan lekas memudar. Aku berusaha membuat ini terdengar Amerika, bar pinggiran yang muram, jalan raya panjang dan besar, dan agaknya aku pun memikirkan ibuku, cara diriku masuk ruangan dan melihat beliau di sofa menatap sampul rekaman bergambar suatu jalan di Amerika, atau mungkin si penyanyi yang duduk di sebuah mobil Amerika. Yang kumaksud, aku coba bermain sehingga ibuku mengenalinya seolah berasal dari dunia yang sama, dunia di sampul rekaman beliau.

Lalu sebelum kusadari, sebelum kuambil satu pun ketukan mantap, Tn. Gardner mulai bernyanyi. Posturnya, berdiri dalam gondola, sangat tidak tunak, dan aku takut ia mungkin hilang keseimbangan tiap saat. Namun suaranya keluar sebagaimana yang kuingat—lembut, hampir serak, tapi dengan sejumlah banyak isian, seolah muncul melalui mikrofon tidak terlihat. Dan seperti semua penyanyi terbaik Amerika, ada keletihan dalam suaranya, bahkan sedikit keraguan, seolah ia bukan orang yang biasa membuka hati dengan cara begini. Itu yang dilakukan setiap orang hebat.

Kami lintasi lagu tersebut, penuh petualangan dan perpisahan. Lelaki Amerika pergi dari perempuannya. Ia terus memikirkan perempuan itu selagi melewati kota satu demi satu, bait demi bait, Phoenix, Albuquerque, Oklahoma, berkendara menyusuri jalan panjang yang tidak pernah dilakoni ibuku. Andai kita bisa tinggalkan berbagai hal seperti itu—aku rasa inilah yang dipikirkan ibuku. Andai kesedihan bisa seperti itu.

Kami sampai akhir dan Tn. Gardner berkata, “Oke, kita langsung ke yang berikutnya. I Fall in Love Too Easily.”

Ini kali pertamaku bermain bersama Tn. Gardner, aku mesti memperasakan semua hal, tapi kami berhasil dengan baik. Setelah yang dikatakannya padaku tentang lagu ini, aku terus memandangi jendela di atas, tapi tidak ada apa pun dari Ny. Gardner, tidak ada gerakan, tidak ada suara, tidak ada apa-apa. Lalu kami rampung, dan senyap dan gelap menyelimuti kami. Di suatu tempat yang dekat, aku bisa dengar seorang tetangga mendorong membuka bingkai jendela, mungkin agar mendengar lebih baik. Namun tidak ada apa pun dari jendela Ny. Gardner.

Kami main One for My Baby sangat lambat, hampir tidak berketukan sama sekali, lalu segalanya diam kembali. Kami masih memandangi jendela di atas, lalu pada akhirnya, mungkin setelah semenit penuh, kami mendengarnya. Kau mungkin hanya membayangkan, tapi tidak salah lagi. Di atas sana Ny. Gardner terisak.

“Kita berhasil, Tn. Gardner!” bisikku. “Kita berhasil. Kita merengkuh hatinya.”

Namun Tn. Gardner tidak terlihat senang. Ia menggeleng lemah, duduk dan memberi isyarat pada Vittorio. “Bawa kami ke tepian lain. Ini saatnya aku masuk.”

Demikian kami mulai bergerak lagi, kukira ia menghindari tatapanku, nyaris seolah ia malu dengan apa yang baru saja kami perbuat, dan aku mulai berpikir mungkin seluruh rencana ini jadi semacam lelucon keji. Sepanjang tahuku, semua lagu tadi menginggalkan rasa giris bagi Ny. Gardner. Jadi aku letakkan gitarku dan duduk di sana, mungkin sedikit cemberut, dan begitulah kami menyusur sementara.

Lalu kami muncul pada kanal yang jauh lebih lebar, dan tiba-tiba sebuah taksi-air berlawanan arah kami terburu melintas, membentuk reak di bawah gondola. Namun kami sudah hampir sampai di depan palazo Tn. Gardner, dan saat Vittorio mengarahkan kami menuju dermaga, aku bilang:

“Tn. Gardner, kau telah jadi bagian penting dari masa tumbuhku. Dan malam ini pun malam yang sangat istimewa bagiku. Kalau saat ini kita hanya berucap selamat tinggal dan aku tidak lagi pernah melihatmu, kutahu sepanjang sisa hidup aku akan selalu penasaran. Jadi tolong, Tn. Gardner, ceritakan padaku. Barusan tadi, apa Ny. Gardner menangis bahagia atau karena ia kecewa?”

Kurasa ia tidak mau menjawab. Di cahaya remang, sosoknya hanya bentuk bungkuk pada bagian depan lambu. Namun selagi Vittorio mengikatkan tali, ia berkata pelan:

“Aku kira ia bahagia mendengarku bernyanyi begitu. Tapi tentu, ia kecewa. Kami berdua kecewa. Dua puluh tujuh tahun itu lama dan setelah pesiar ini kami berpisahan. Ini adalah pesiar terakhir kami bersama.”

“Aku sangat menyesal mendengarnya, Tn. Gardner,” ucapku lembut. “Kurasa banyak pernikahan berujung akhir, bahkan setelah dua puluh tujuh tahun. Namun setidaknya kau bisa berpisah dengan cara seperti ini. Liburan di Venesia. Bernyanyi dari sebuah gondola. Tidak banyak pasangan yang berpisah dan tetap jadi beradab.”

“Tapi kenapa tidak kita jadi beradab? Kami masih saling mencintai. Itu sebabnya ia menangis di sana. Sebab ia masih mencintaiku sebesar aku masih mencintainya.”

Vittorio melangkah naik ke dermaga, tapi Tn. Gardner dan aku masih duduk dalam gelap. Aku menunggunya bicara lebih banyak, dan benar saja, setelah sesaat, ia melanjutkan:

“Seperti kataku, pertama kali aku melihat Lindy aku jatuh cinta padanya. Tapi apa ia mencintaiku saat itu? Aku ragu kalau pertanyaan ini pernah terlintas di pikirannya. Aku idola, itulah yang penting baginya. Akulah yang ia impikan, apa yang ingin ia menangkan sejak dari kedai kecil itu. Tentang ia cinta aku atau tidak, bukanlah soal. Namun dua puluh tujuh tahun pernikahan bisa membikin hal-hal lucu. Banyak pasangan, mereka awalnya saling mencintai, lalu lelah satu sama lain, berakhir saling membenci. Tapi kadang itu berlangsung sebaliknya. Perlu beberapa tahun, tapi sedikit demi sedikit, Lindy mulai mencintaiku. Awal-awal aku tidak berani percaya, tapi beberapa waktu setelahnya tidak ada hal lain untuk dipercayai. Sentuhan lembut pada bahuku selagi kami bangkit dari suatu meja. Senyum kecil lucu melingkungi ruang ketika tidak ada apa-apa untuk disenyumi, ia hanya berlucu-lucu. Aku yakin ia sama terkejutnya dengan siapa pun, tapi itulah yang terjadi. Setelah lima atau enam tahun, kami temukan diri kami nyaman satu sama lain. Bahwa kami sama-sama bercemas, sama-sama peduli. Seperti kataku, kami saling mencintai. Dan kami masih saling mencintai pada hari ini.”

“Aku tidak paham, Tn. Gardner. Jadi kenapa kau dan Ny. Gardner pisahan?”

Ia mendesah lagi. “Bagaimana kau bisa mengerti, Kawanku, dari tempat asalmu? Tapi kau baik padaku malam ini, jadi aku akan mencoba dan menjelaskan itu. Faktanya, aku bukan lagi nama besar sebagaimana diriku dulu. Prosteslah sepuasmu, tapi di tempat asal kita, tidak ada menariknya sesuatu macam itu. Aku bukan lagi nama besar. Kini aku hanya bisa terima itu dan memudar. Menanggung kejayaan masa silam. Atau aku bisa bilang, tidak, aku belum selesai. Dengan kata lain, Kawanku, bisa kubuat kemunculan kembali. Banyak dari posisiku dan lebih buruk. Tapi suatu kemunculan kembali bukanlah mainan gampang. Kau harus siap membuat banyak perubahan, sebagian di antaranya sulit. Kau mengubah caramu. Kau bahkan mengubah hal-hal yang kau cintai.”

“Tn. Gardner, apa maksudmu kau dan Ny. Gardner berpisah karena kemunculan kembalimu itu?”

“Lihat orang-orang lain, mereka yang kembali tampil dengan sukses. Lihatlah dari generasiku yang masih bergaung. Masing-masing, mereka sudah menikah lagi. Dua kali, kadang tiga kali. Masing-masing, istri muda di dekapan mereka. Aku dan Lindy akan jadi bahan guyonan. Lagipula, ada nona muda yang aku tuju, dan ia pun balas menujuku. Lindy tahu alasannya. Ia telah tahu lebih lama dariku, mungkin sejak hari-hari mendengarkan Meg di kedai itu. Kami sudah membicarakannya. Ia mengerti inilah saatnya kami menapak jalan masing-masing.”

“Aku masih belum paham, Tn. Gardner. Tempat kau dan Ny. Gardner bermula tidak mungkin begitu berbeda dari tempat lainnya. Itu sebabnya, Tn. Gardner, itulah sebab lagu-lagu yang kau nyanyikan selama bertahun-tahun mampu menyentuh banyak orang di segala tempat. Bahkan di tempat tinggalku dulu. Dan apa yang dikatakan semua lagu tersebut? Jika dua orang berhenti mencinta dan mereka mesti berpisah, itu menyedihkan. Tapi jika mereka masih mencintai satu sama lain, mereka harus tetap bersama selamanya. Itu yang dikatakan semua lagu tersebut.”

“Aku mengerti yang kaukatakan, Kawan. Dan ini mungkin terdengar sulit bagimu, aku tahu. Tapi beginilah adanya. Dan dengarlah, ini juga soal Lindy. Baik baginya ini kami lakukan sekarang. Ia belum terlalu tua. Kau sudah lihat, ia masih seorang perempuan cantik. Ia perlu beranjak sekarang juga, selagi masih ada waktu. Waktu untuk menemukan cinta lagi, menikah lagi. Ia harus beranjak sebelum terlambat.”

Aku tidak tahu apa yang mesti kukatakan soal itu, tapi kemudian ia membuat diriku terkejut dengan berkata: “Ibumu. Kurasa ia tidak pernah beranjak.”

Aku memikirkan itu, lalu berkata pelan, “Tidak, Tn. Gardner. Beliau tidak pernah beranjak. Beliau tidak beroleh cukup umur untuk melihat perubahan di negara kami.”

“Sayang sekali. Aku yakin ia perempuan yang baik. Jika katamu benar, dan musikku membantu membuatnya bahagia, itu sangat berarti bagiku. Sayang sekali ia tidak beranjak. Aku tidak mau itu terjadi pada Lindy-ku. Tidak, Bung. Jangan pada Lindy. Aku ingin Lindy-ku beranjak.”

Gondola menubruk lembut dermaga. Vittorio memanggil pelan, mengulurkan tangan, dan setelah beberapa detik, Tn. Gardner berdiri dan melangkah keluar. Pada waktu aku pun melangkah keluar dengan gitarku—aku tidak niat berharap tumpangan gratis dari Vittorio—Tn. Gardner mengeluarkan dompetnya.

Vittorio tampak senang dengan apa yang diberikan padanya, dan dengan cocot dan polah kebiasaannya, ia kembali ke gondola dan mulai menyusur kanal.

Kami melihat ia lenyap ke dalam gelap, lalu selanjutnya,  Tn. Gardner menyodorkan berlembar-lembar kertas ke tanganku. Aku bilang padanya ini kebanyakan, bagaimanapun ini upah yang tinggi bagiku, tapi ia tidak mau menggubris soal mengambilnya kembali.

“Tidak, tidak,” katanya, melambaikan tangan di depan wajah, seolah ia ingin selesai, bukan saja pada uang tadi, melainkan dengan diriku, malam hari, mungkin seluruh bagian hidupnya ini. Ia mulai berjalan menuju palazonya, tapi setelah beberapa langkah, ia mandek dan berbalik menatapku. Jalan kecil tempat kami berada, kanal itu, segalanya senyap kini selain bunyi jauh dari sebuah televisi.

“Kau main apik malam ini, Kawanku,” ia berucap. “Kau punya sentuhan bagus.”

“Terima kasih, Tn. Gardner. Dan kau bernyanyi hebat. Sehebat selamanya.”

“Mungkin aku akan datang lagi ke alun-alun sebelum kami pergi. Mendengar kau main bersama krumu.”

“Kuharap demikian, Tn. Gardner.”

Namun aku tidak pernah melihatnya lagi. Beberapa bulan kemudian, di musim gugur, aku dengar Tn. dan Ny. Gardner bercerai—salah satu pelayan di Florian membaca itu di mana entah dan menceritaiku. Semua itu lalu mengembalikanku pada malam tersebut, dan membuat aku agak sedih memikirkannya lagi. Karena Tn. Gardner rasanya pria yang cukup baik, dan dengan cara apa pun kau menilainya, kembali tampil ataukah tidak, ia akan selalu jadi salah satu dari yang terbaik.

 

Terjemahan sembarang(an) dari Crooner, Kazuo Ishiguro.

Lahir di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, 9 Maret 1993. Pernah berkuliah di Teknik Elektro Universitas Brawijaya dan bergiat dengan Malam Puisi Malang dan Pelangi Sastra Malang. Twitter: @alravox