Senyuman Terakhir

Sumber: pinterest

Malam teramat terang, purnama bertengger gagah di pucuk langit. Bintang gemintang ikut membantu menyorot dedaunan rimbun pepohonan kampung Cemoro Wetan. Di bawahnya, lidah-lidah api menyalak-nyalak dalam puluhan obor yang dibawa oleh wajah-wajah garang, penuh tanda tanya. Tetes keringat yang meliak-liuk di dahi mereka tak lagi dihiraukan. Tujuh hari tujuh malam, Cemoro Wetan dilanda pemandangan begini muram. Hanya satu nama yang keluar dari mulut mereka, “Cak Din!”, “Cak Din!” dan “Cak Din”. Saling bersahutan, berbalas dengan lengking lolongan anjing kuburan.

***

“Tangis bayi sama sama kerasnya, tak ada orang tua yang mampu menebak tangisan manja atau tangis penuh kesakitan, begitu pula dengan kedua orang tua Cak Din” ujar Mbok Marmi sembari menaburkan remah kerupuk untuk gado-gado di atas piringku. Wanita itu tak mampu melanjutkan perkataanya. Matanya mulai berarir dan bunyi sesenggukkan keluar dari hidungnya. Aku pun menghampirinya, memegang kedua pundaknya dari belakang dan menuntunnya duduk di kursi dekat rombong gado-gadonya.

“Sabar Mbok, nyebut nama Gusti Allah ya, semoga Cak Din tetap diberi perlindungan” kataku tepat di samping telinganya yang mulai mengeriput. Ia tak menjawab dan hanya menganggukkan kepala, telunjuk kananya menunjuk ke arah gado-gado. “Sudah siap Nak,” ujarnya pelan.

Segera kuambil gado-gado itu lalu kubawa ke rumah. Jarak rumahku dan Mbok Marmi tak terlalu jauh, hanya terpaut empat rumah saja. Rombong gado-gado si Mbok diletakkan di teras rumahnya. Ah semoga gado-gado ini dapat menambah energiku yang sedang kelelahan. Semalam aku sangat lelah mencari Cak Din. Tujuh hari tujuh malam, kami warga kampung Cemoro Wetan tak dapat tidur karena orang yang biasa tersenyum pada kami, menghilang begitu saja.

Setelah membeli gado-gado, aku baru tahu bahwa Mbok Marmi justru orang yang paling terpukul. Dia sudah seperti ibu bagi Cak Din yang sudah yatim piatu sepuluh tahun lalu. Mbok Marmi adalah warga asli kampung ini yang masih tersisah. Dia sahabat dekat ibu Cak Din yang sudah meninggal. Cerita yang tak dilanjutkan saat menjual gado-gado tadi adalah cerita yang kerap kali dituturkan. Dia tahu benar bahwa, orang tua Cak Din adalah pasangan suami istri yang berprofesi sebagai seorang penjual emas di Pasar Besar. Namun nahas, mereka tak dikaruniai anak sehingga berinisiatif untuk mengambil seorang bayi di rumah sakit. Setelah dibesarkan barulah tahu bahwa ternyata lelaki mungil yang dibesarkan itu ternyata mengidap gangguan jiwa.

Kedua orang tua Cak Din membesarkannya dengan penuh kasih. Mereka pasrah dan tidak menelantarkan putranya. Sebagai putra seorang saudagar, Cak Din tak berkekurangan satu pun. Orang tua Cak Din juga dikenal sebagai keluarga yang sangat dermawan. Seringkali mereka membagikan sembako pada warga kampung setiap menjelang lebaran. Itulah sebabnya warga sangat segan pada mereka.

Waktu bergulir begitu cepat, usia terkikis dari hari ke hari. Bapak Cak Din meninggal saat Cak Din berusia 40 tahun, lalu disusul ibunya sepuluh tahun kemudian. Sepeninggal kedua orang tuanya, Cak Din diserahkan pada pamannya. Namun nahas, pamannya justru menjual rumah milik orang tua Cak Din sekaligus menjual satu unit usaha orang tua Cak Din yang dirintis puluhan tahun di Pasar Besar. Menurut kabar dari tetangga, paman Cak Din ini pergi transmigrasi ke Kalimantan dengan semua hasil penjualannya selama di Malang. Kasihan, Cak Din ditelantarkan begitu saja di kampung Cemoro Wetan.

Warga sekitar pun berinistaif membangunkan rumah kecil bagi Cak Din di dekat aliran anak sungai Brantas. Namun Cak Din bukanlah orang yang suka sendirian. Itulah sebabnya, dia selalu duduk di pelataran Mbok Marmi. Bercelana panjang dan berpakaian compang-camping. Dia selalu tersenyum dan menyapa setiap orang yang lewat tanpa sedikit pun bermaksud untuk mengganggunya. Bahkan, Cak Din juga tak pernah tampil telanjang bulat di depan umum. Jika lapar, Cak Din meminta makanan pada Mbok Marmi dan selalu mau memakan apa saja yang diberikan Si Mbok. Itulah sebabnya, Mbok Marmi sangat terpukul dengan hilangnya Cak Din. Sambil menyantap gado-gado ini, aku teringat betapa girangnya senyuman dan tawa Cak Din menghibur orang-orang yang sedang antri gado-gado, beberapa waktu silam.

Saat asyik menyantap gado-gado tiba-tiba aku mendengar suara Tino, anak kecil yang usianya sekitar sepuluh tahun, menangis sembari mengusap air mata dengan tangan kananya.

“Lho kok nangis No, ayo makan gado-gado sini sama Mas!” tawarku pada Tino yang sedang melantunkan langkah kakinya lemas. Ia menggelengkan kepala tetapi datang menghampiriku.

“Kenapa kamu kok nangis No?” tanyaku.

Dia memelukku dan tangisnya semakin keras.

“Kangen Cak Din” katanya.

Mataku terbelalak, tak menyangka aku mendengar kata-kata itu dari anak usia sepuluh tahun. Seorang anak yang rindu pada lelaki yang berusia 50 tahun di atasnya. “Kenapa kok kangen No?” tanyaku pelan.

“Cak Din biasanya membantuku memegangi layangan” ujanya sembari mengangkat kedua tanganya ke atas seolah memegang layangan.

“Nanti kalau aku layangan lagi, siapa yang membantu?” tangisnya malah semakin menjadi. Sungguh, ternyata Cak Din begitu perhatian pada anak-anak. Hal-hal yang dianggap  remeh temeh oleh orang dewasa pun dilakukanya. Aku yakin, dia membantu anak ini dengan wajah girang dan senyumanya yang khas.

“No, sekarang kamu jangan nangis. Makan gado-gado ini biar kuat, biar bisa bantu Mas dan Bapak-Bapak di sini cari Cak Din!” kusodorkan gado-gado padanya. Masih sedikit kumakan, dan memang masih layak untuk dibagi bersama Tino. Kali ini dia mengangguk. Sungguh aku tak tega melihat kesedihannya.

Jarum jam bersatu padu menunjukkan angka dua belas, matahari sedang bertengger di atas pucuk kepala. Sembari menemani Tino makan, aku melihat Mamat berjalan mendekat. Rompi hijau mudanya sesekali digunakan sebagai lap keringat pada dahinya. Tampaknya dia lupa membawa topi. Setiap hari, lelaki yang usianya sebaya denganku ini selalu berdiri di pertigaan jalan raya kampung Cemoro Wetan untuk membantu menyebrangkan orang yang lewat di sekitarnya. Sesekali dia juga ikut parkir dan mengamankan kendaraan pengunjung minimarket pinggir jalan.

“Mat, gimana Mat? Kira-kira orangnya ke jalan raya atau tidak ya?”

Mamat berhenti sejenak. Dia berkacak pinggang sembari menunduk menggeleng. “Owalah Mas, tidak mungkin Cak Din itu keluar. Sejak Ibunya meninggal, dia takut ke jalan raya. Katanya di jalan dia selalu melihat ibunya”.

Aku hanya mengangguk mendengar cerita Mamat.  “Padahal setiap aku istirahat siang, Cak Din selalu menyapa dan tertawa tawa, kadang bahkan menari seolah ingin menghiburku” ucap Mamat melanjutkan ceritanya. Setelah berkata demikian, dia berjalan gontai ke rumahnya yang melewati rumah gado-gado Mbok Marmi. Suasana kampung lagi-lagi lesu. Kami benar-benar merasa kehilangan orang yang setiap hari selalu ada bersama kami. Menyapa kami dengan untaian senyuman atau sedikit tawa riang. Menyapa, ya sebatas menyapa. Perbuatan yang teramat langkah di zaman sekarang ini.

Belum jauh Mamat melangkah pergi, aku melihat Pak Sanusi datang ke arahku. Dia datang tergopoh-gopoh sembari berlari kecil menenteng tumpukan obor yang diikat tali tampar. Ia menyodorkan tumpukkan obor itu ke dadaku dan aku langsung merangkulnya.

“Mas, ini buat anak anak karang taruna yang obornya rusak atau hilang. Nanti malam sebelum keliling silahkan dibagikan di pos!” tegasnya.

“Wah, ini kok banyak sekali Pak?”

“Ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan perbuatan yang dilakukan oleh Cak Din kepadaku Mas!”

“Memangnya apa yang dilakukan Cak Din, Pak?”

“Sebagai seorang tukang di kampung ini, aku sering diminta oleh penduduk setempat untuk membantu membangun atau merenovasi rumah penduduk. Cak Din selalu ikut, dia tidak pernah meminta bayaran sepeserpun. Satu dua batang rokok sudah membuatnya tertawa dan tersenyum, padahal yang dikerjakan hampir sama kerasnya dengan kuli-kuli lain. Dia ikut mengaduk semen, membawa bata, dan mengangkut batu tanpa rasa lelah!”

Aku melihat mata Pak Sanusi berkaca-kaca sambil mengarahkan wajahnya ke arah langit. Ia tak ingin aku menyaksikan kesedihannya. Ia pun mohon diri dan membalikkan badan sembari berkata, ”Semoga nanti kita semua tetap mencari Cak Din dengan penuh semangat, seperti dia yang selalu tersenyum dan tak pernah mengeluh saat membantu kita”. Setelah berkata demikian, Pak Sanusi berjalan meninggalkanku.

***

Matahari mulai bergegas menuju kaki langit, berganti peran dengan rembulan. Para pemuda mulai memenuhi pos ronda, begitu juga dengan Bapak-Bapak. Ibu-ibu dan para remaja putri datang silih berganti membawa gorengan serta kopi dan teh. Pak RT dibantu aparat kampung mulai menyebar lokasi titik pencarian. Malam ini adalah malam kedelapan, kampung ini bersatu padu untuk mencari seorang yang paling berarti dalam hidup mereka, yaitu Cak Din. Bahkan kabarnya, kampung sebelah pun membantu mengirimkan beberapa anggota karang taruna untuk ikut mencari Cak Din. Dalam hati aku membatin, mungkin jika kau tak hilang, pos ronda hanya ramai saat menjelang lomba Agustusan saja. Bahkan mungkin saja antar tetangga satu dengan yang lain masih enggan bertegur sapa. Bukan karena banyaknya pendatang baru, tapi karena tenggelam oleh kesibukan dan gawai yang makin lama makin membenamkan. Meskipun demikian di dalam lubuk hati yang terdalam aku ingin berkata, “Kembalilah Cak Din, jangan beri kami senyuman terakhirmu!”.

 

Pernah dimuat di Radar Malang pada tanggal 15 Juli 2018

Bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang. Antologi cerpennya Aloer-Aloer Merah (Pelangi Sastra, 2017)