Pinterest – Alice Wellinger

Bening mengalir, air membasahi sekujur sungai. Mengulum bebatuan yang mendongkol di tepi-tepinya. Gemericik bersahutan berlomba satu sama lain. Terkadang daun yang gugur turut ikut berenang menuju sang empunya aliran. Sesekali terlihat ikan yang ikut mandi dan menari sesuka hati. Sungguh masih bening, sungguh masih suci. Sesuci gadis yang sedari tadi duduk di sampingku menikmati pemandangan di sisi tepian sungai.

***

Ko ayo kita pergi, bagaimana jika nanti teman-teman mencari kita?” gadis itu kembali menunjukkan kegusarannya. Aku diam tidak bergeming. Ingin rasanya aku mengutarakan perasaan yang sudah lama kupendam padanya. Di sini hanya tinggal kami berdua. Tunggu apa lagi. Namun bibir ini serasa berat mengucapkan sepatah kata.

Ko, kamu tadi mau ngomong apa? Kenapa kamu mengajak aku berpisah dengan teman-teman lain?”. Ia mulai mendesak. Memberondongku dengan berbagai pertanyaan yang diletupkan dari bibir mungilnya. Perlahan aku menoleh padanya, kutatap kedua bola matanya dengan tajam. Terlihat coklat kehitaman. Sungguh indah. Lebih indah dari ratusan batu akik yang dikoleksi oleh kakekku. Kulihat wajahku tergambar jelas di kedua bola matanya. Sungguh aku merasa berdosa. Tak seharusnya mata seindah itu menatap lelaki pengecut sepertiku. Lelaki yang tak mampu mengutarakan isi hati yang telah dipendamnya selama 3 tahun terakhir.

Aku lalu tersenyum. Bagiku tak apalah aku belum mampu mengutarakan isi hatiku, yang pasti sekarang aku bisa berdua-dua dengannya tanpa ada satupun yang menggangguku. “Lia, coba lihat untuk tujuan apa kita ke tempat ini?” akupun mulai mengalihkan perhatian dengan pertanyaan sekenanya.

“Kamu ini gimana sih! Ya untuk memenuhi tugas akhir kita dong! Kan setelah ini kita lulus!” Lia berujar kesal. Benar memang, setelah ini kita berpisah. Penelitian ini adalah penelitian terakhir kami sebagai siswa-siswi kelas 12 IPA. Sekolah kami merupakan sekolah yang dikenal memiliki budaya literasi tinggi. Tuntutan dari guru kami sangat tinggi, termasuk dalam hal penelitian.  Kami disuruh meneliti tentang Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) di wilayah Perumahan River Side. Memang pertanyaanku tadi tidak penting dan hanya sekedar basa-basi. Namun sengaja agar aku bisa mengulur-ulur waktu dengannya.

“Li, kamu tahu tidak dulu tempat ini dinamakan kali mewek lho?” kata ku. Kuharap pertanyaan ini mamppu memecah kebekuan hatinya.

Ia menoleh, dan menyipitkan matanya sembari berkata,”Lalu apa kaitannya dengan AMDAL, Mas IKO?!”.

“Hei Stop! Sudah-sudah jangan bertengkar lagi!” suara itu tiba-tiba muncul dari belakang kami, tepat di balik semak-semak. Mendengar itu, kami berdua diam seketika saling bertatapan. Lia dengan spontan membenamkan wajahnya ke punggungku. Ia bergetar. Yes!!! Ujarku dalam hati. “Iko itu tadi suara siapa? Aku takut” Lia memelas mohon perlindungan.

Sebagai satu-satunya lelaki yang ada di tempat itu, mau tidak mau aku harus berani. Apalagi Lia yang  memasrahkan keselamatannya di punggungku. “Hei siapa kamu? Keluar!” naluri kelelakianku mulai muncul. Kulihat semak-semak di belakangku mulai bergerak. Ada sosok yang hendak keluar nampaknya. “Baaaaaaaa ini aku!”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” Lia berteriak histeris sambil mencengkeram punggungku.

“Tenang Lia tenang! Dia mungkin salah satu adek kelas kita! Lihat seragamnya sama dengan kita!” aku berusaha meyakinkan Lia.

“Hai namaku Satrio, panggil aku Trio,” dengan polosnya bocah yang mengagetkan kami ini memperkenalkan namanya. Tubuhnya kecil kurus, namun bersih. Rambutnya ikal. Wajahnya imut dan selalu tersenyum. Bajunya masih mengenakan seragam. Kumalnya baju yang dikenakan. Celananya pendek. Menandakan dia masih SMP. Mungkin ia adalah adik dari salah satu rekan yang melakukan penelitian di tempat ini. “Adik kenapa di sini?” tanyaku dengan sabar.

“Itu di balik rumput yang itu ada batu!” telunjuknya mengarah pada salah satu sisi rerumputan yang dimaksud. Akupun melangkhakan kaki ke tempat yang dituju kemudian menyibakkan beberaapa rerumputan. Benar ternyata ada beberapa bongkahan batu yang ukuranya sebesar buah kelapa. “Di bawah batu itu! Di bawah batu itu!” Trio mulai merengek.

Kusisngsingkan seragamku, lalu kuangkat satu demi satu bebatuan ini. Anak itu tersenyum padaku dengan wajah tanpa dosa sembari berkata,”Sekalian pindahkan batu yang terakhir ya Mas!”. Kupindahkan batu yang terakhir dan ternyata yang kulihat hanyalah sebuah kotak minum yang telah usang. Kotak itu kecil sekali seperti bekas tempat minum tentara. Kucari moncong tempat minum itu dan dapat. Kubuka dengan paksa lalu ku keluarkan isinya. Ternyata isinya sapu tangan yang keadaanya sudah kumal dan terkoyak koyak. Warnanya merah tapi bercampur dengan debu sehingga terlihat merah kecoklatan. Di ujung kanan bawah saputangan masih tersisah bekas rajutan dengan huruf SM. “Trio, ini punya kamu?” tanyaku padanya.

“Iya itu ada huruf S dan M” ucapnya.

“S dan M itu artinya apa dik?” tanya Lia.

“S itu untuk Satrio dan M untuk Mak, itu yang buat Mak nya Trio” jelasnya.

Anak itu menghampiriku dan bertanya,”Mas tolong kembalikan itu pada Mak Ya?”. Kali ini kulihat ia serius. Ia sudah tidak cengengesan lagi. Sorot matanya memohon belas. “Rumah kamu di mana Trio? ” kataku dengan iba.

“Rumah ku di Tjelaket Mas, di belakang sekolah besar itu Mas, bercat putih dan ada halamanya tapi tidak luas, tapi minggu lalu trio baru saja menanam mangga,” terangnya dengan polos.

“Oh iya nama Mak Trio siapa? Bapak ke mana? Kok dari tadi nyebutnya Mak terus?” Lia mulai penasaran.

“Mak Nem namanya, orang sering bilang Tukinem, kalau Bapak ke Grisse Mbak sudah hampir tujuh bulan dines, ya semoga saja kalau adhek lahir Bapak bisa pulang!”  jawab Trio.

Dari sebelah utara sungai tiba-toba terdengar gemuruh suara langkah kaki. Semakin lama semakin kencang suaranya. “Lia! Iko! Dimana kalian?!” teriakan itu muncul dari arah yang sama dan sling bersahutan satu sama lain. Nampaknya teriakan Lia tadi telah terdengar oleh salah satu rombongan peneliti muda. Mereka berniat menolong kami.

“Mas tentaranya datang lagi Mas, lebih baik Mas dan Mbak sembunyi, cepat Mas!” Trio meronta lagi dan pergi meninggalkan kami.

***

Keesokan harinya aku dan Lia sengaja menyusuri kampung Celaket. Tak mau ambil pusing, akupun segera menemui salah satu ketua RW di daerah tersebut. Dapat! Ya akhirnya aku dapat nama Tukinem. Ternyata mudah menemukan nama Mak Nem di tempat ini. Hampir semua orang kenal, khususnya sesepuh kampung.

Sejenak kemudian, sampailah kami di depan rumah Mak Nem. Rumahnya bercat putih. Tidak terlalu besar tapi bersih putih terawat. Di pekaranganya kulihat ada pohon mangga yang mulai berbuah. Beberapa anak-anak terlihat asik bergurau sembari memanjat pohon mangga itu. Kuangkat sedikit kacamataku kupastikan apakah Satrio ada bersama anak-anak ini. Ternyata nihil. Satrio tidak ada. Mungkin ia di dalam bersama Maknya.

Tanpa ragu lagi, kamipun melangkah masuk. Dari arah ruang tamu tiba-tiba keluar sosok pria yang usianya kurang lebih sama dengan Pak Ridwan, kebapakkan. “Mari masuk Mas, ada keperluan apa mas datang kemari?” ia berucap dengan ramah. Kamipun masuk ke rumah itu. Sangat klasik dan sangat tua rumah ini. Atapnya terbuat dari genteng coklat yang disusun tinggi. Beberapa perabot juga masih menunjukkan nafas klasik. Rupa-rupanya pemilik sengaja menjaga kekhasan dalam rumah. Tidak kutemukan ornamen lain di dinding ruang tamu selain rajutan yang telah dibingkai dengan pigura. Rajutan itu terlihat sangat rapi bergambar bendera merah putih. Sederhana, tapi agaknya memiliki kesan yang sangat dalam bagi pemiliknya sehingga diprioritaskan sebagai penghias ruangan di ruang tamu.

“Ada keperluan apa ya Mas dan Mbak ini mencari ibu saya?” tanya Jatmiko.

“Begini Mas, kami hendak menyerahkan saputangan ini pada Mak Nem,”. Akupun mulai menjelaskan panjang lebar perihal kedatanganku di rumah ini. Sesekali kuselipkan cerita pertemuanku dengan Satrio kemarin.

Aneh, semakin aku bercerita semakin Jatmiko terdiam. Wajahnya mulai pucat seolah tak tahu harus berkata apa. Bibirnya melongo dan matanya terbelalak keheranan. “Mas katanya mau liat Mak Nem, ayo masuk” istri Jatmiko keluar dari salah satu bilik kamar. Jatmiko masih diam terpaku. Ia lalu menutup wajahnya dan menangis sesenggukkan. Kamipun diajaknya masuk ke salah satu kamar. Kamar itu hanya ditutup dengan selambu. Kusibakkan selambu yang berwarna merah padam.

“Astaga!!!” Kulihat seorang wanita renta tergolek lemah di ujung ranjang. Rambutnya memutih dan diurai panjang. Wajahnya keriput tak berbentuk. Tubuhnya sangat ringkih kering dan tak berdaya. Posisinya selonjor. Ia mengenakan kebaya putih yang terliat kebesaran. Lalu sisi tubuh yang lain ditutup selimut hingga ke kaki. Di sebelahnya ada seorang remaja puteri semuruan lia membawa aair putih dan sendok. Nampaknya untuk minum pun ia harus disuapi

“Siapa ini Bu?” tanyaku pada istri Jatmiko. “Ya ini Mak Nem Mas, itu dia disuapi oleh Rista puteriku. Bahagianya wanita sesepuh Mak Nem masih bisa ditunggui oleh anak, menantu, dan cucu-cucunya di usia yang sudah hampir seabad ini” ujarnya.

Perlahan kulangkahkan kakiku ke depan ke arah Mak Nem. Wajahnya sayu menatpku. Akupun duduk di sisi ranjang tepat di samping kakinya. Tanpa berucap kata apapun kukeluarkan sapu tangan yang sejak tadi bertengger di sakuku. Kutaruh tepat di dadanya. Melihat itu, wajah Mak Nem berubah. Mulutnya terbuka. Ia mendesah pelan. Kedua matanya yang sayu kini mulai meneteskan air dari lubuk nuraninya.

“Lho Ma, itu kan sapu tangan yang sama dengan yang ada di bawah bantal Mbah selama ini!” tba-tiba cucu gadisnya berdiri. “Nuwun sewu Mbah” sembari berucap demikian, ia sedikit mengangkat bantal Mak Nem mengeluarkan sapu tangan yang berada di bawahnya.

Sama! Sungguh sama persis sapu tangan itu. Hanya saja wananya putih. Di ujungnya juga terdapat rajutan. Bedanya di ujung sapu tangan terdapat rajutan M dan S. Pasti ini Mak, karena diawali dengan huruf M. Dan sapu tangan yang baru saja kuserahkan pada Mak Nem ini milik Satrio. “Sebentar mas masih ada lagi,” ujar gadis itu. Belum berhenti kekagetan yang bertubi-tubi melandaku, si gadis ini nampaknya hendak menunjukkan kejutan yang lebih besar.

“Mas, katanya Bapak ini foto Paklik dan Mbah Kakung saat keduanya belum bertugas di medan perang,” kata gadis itu semabri menunjukkan foto kumal padaku.

“Satrio!!!!!” Kulihat wajah bocah bersragam TRIP yang kutemui kemarin terpatri jelas. Ia tersenyum sambil menarik ketapel kecil dari saku milik lelaki dewasa yang menggendongnya. Di sampingnya ada seorang wanita yang membawa sendok dan mangkuk siap untuk menyuapi si bocah. Kugenggam erat foto itu. Sama seperti Mak Nem yang menggenggam sapu tangan dariku.

 

Pernah dimuat di Malang Pos pada tanggal 14 Oktober 2018

Bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang. Antologi cerpennya Aloer-Aloer Merah (Pelangi Sastra, 2017)