Behance

 

Kemana semua kata ketika aku ingin menulis sebuah puisi tentangmu?

Sebuah halaman microsoft word terbuka di laptopnya. Orang menulis puisi untuk berbagai alasan. Beberapa untuk alasan yang mulia, tentang berbagi perasaan keindahan terhadap sesama misalnya, tetapi beberapa yang lain menulis puisi hanya untuk alasan yang bukan apa-apa. Seperti yang kini sedang dilakukannya.

Danurwenda telah sampai pada usia di mana buku-buku yang dipajang di toko buku tidak lagi memuaskan hatinya. Semua buku terlihat memiliki satu atau dua kesalahan yang menurutnya terlalu konyol untuk ada dalam sebuah buku. Dia sudah senang membaca buku sejak balita jadi perasaan seperti itu sangat mengganggunya. Dia berpikir menulis buku dengan caranya sendiri akan sedikit membantu.

Dia menentang sama sekali ide memakai pengalaman pribadi untuk menulis karena seseorang mungkin akan terluka karenanya, tapi dia selalu teringat kepada wanita itu saat dia ingin menulis sesuatu.

“Aku terlalu muda untuk hidup di dalam kenanganmu,” kata wanita itu, dulu saat Danurwenda mengaku mulai menulis puisi sejak bertemu dengannya.

“Kau tidak suka?”

“Diabadikan sebagai gadis muda siapa yang tidak mau?” Gadis itu tertawa. Suara tawanya seperti bunyi lonceng dari masa yang jauh. “Tapi penyair hanya menulis apa yang dikenangnya. Sesuatu yang telah berlalu. Itu sangat menyedihkan.”

Dia tidak terlalu mengerti apa bedanya masa lalu dan masa sekarang. Jika menyangkut wanita itu rasanya semua masa sama saja. Mengekal entah bagaimana.

***

Bagaimana bisa kita kembali seperti kita semula, dua orang asing yang datang dari dua arah berbeda, lalu menjadi teman untuk menikmati apa yang kita simpan di dalam hati kita masing-masing, apa yang disebut-sebut sebagai impian dan harapan?

“Siapa nama kecilmu?” Mereka telah berteman selama tiga bulan ketika dia berpikir saling memanggil dengan nama belakang adalah konyol. Mereka mengambil beberapa kelas yang sama dan sekali dua kali berjalan ke kampus bersama-sama. Danurwenda menganggap gadis itu sangat menarik.

“Asami.”

“Bagaimana menuliskannya?”

“Huruf ‘asa’ dan ‘utsukushii’.”

***

Apakah itu yang disebut cinta, sesuatu yang muncul di hati yang menjadi murung oleh kesendirian?

Danurwenda tidak tahu kenapa mereka bisa bersama atau bagaimana. Dia hanya tahu dia sedang jatuh cinta. Mungkin peri-peri bunga odamaki telah menyihir hatinya. Dia tidak tahu. Dia hanya tahu cintanya akan menyakiti gadis itu.

Gadis itu tentu saja masih lugu sebelum bersamanya. Ia memiliki keriangan yang manis dari seorang gadis sekaligus kesungguhan yang mengerikan dari seorang kekasih muda yang mencintai dengan seluruh kedalaman jiwa, menganggap seluruh kata-katanya sebagai kebenaran dan meyakini mereka memiliki cinta yang besarnya seimbang terhadap satu sama lain tanpa benar-benar menyadari bahwa pria dan wanita berbeda dalam semua hal mengenai cinta.

“Kimonomu bagus sekali.” Hari itu Asami memakai kimono biru muda bermotif ranting-ranting pohon bunga camelia dan obi berwarna salju keperakan dengan sulaman burung bangau. Mereka sedang berjalan keluar dari stasiun Komagome karena Asami ingin melihat pohon keyakidi taman Rikugien. Sungguh aneh bahwa gadis itu memakai kimono yang indah untuk melihat pepohonan.

“Benarkah? Aku tidak cocok memakai baju yang lain. Gaun modern membuatku seperti dahan pohon mati.”

“Di Jepang bahkan dahan pohon mati pun tampak indah.”

“Astaga!” seru wanita itu dengan nada menegur.

Dia tertawa. “Aku serius. Kalau seseorang memotretmu memakai baju tertentu, gadis-gadis akan berbondong-bondong membeli baju yang sama.”

“Apa kau ingin bilang kalau aku cantik?”

“Apa kau tidak sering melihat cermin akhir-akhir ini?”

“Aku tidak suka cermin.”

“Para gadis biasanya memandang ke cermin setidaknya beberapa kali sehari.”

“Aku tidak terlalu suka melihat bayangan yang terlihat di dalam cermin. Selalu tampak mengerikan di mataku.”

“Bagian mana dari dirimu itu yang mengerikan? Kau selembut anak burung merpati.”

“Selembut anak burung merpati.” Asami bergumam mengulangnya. “Aku berharap aku selembut anak burung merpati.”

Mereka melewati Naitei Daimon. Tapi meskipun pohon weeping cherry itu telah menjadi obyek foto populer di taman itu Asami tidak berhenti untuk melihatnya. Dia pernah mengatakan kalau pohon itu membuatnya sangat sedih. Dia lebih menyukai pohon keyaki yang menurutnya memiliki kesan yang hangat. Danurwenda tidak tahu apapun tentang pepohonan.

Di dekat kolam yang di tepinya tumbuh semak-semak azalea berusia ratusan tahun, Asami memekik kecil. Danurwenda mengira gadis itu digigit serangga. Tapi ketika dia menghampirinya dia melihat gadis itu sedang duduk berjongkok mengamati rumpun bunga liar.

“Luar biasa, bukan?”

“Ya?”

“Ini bunga odamaki. Beruntung sekali kita menemukannya disini.”

Jelas bagi Asami itu seperti sebuah penemuan. Danurwenda tidak ingin merusaknya, jadi dia ikut duduk bersamanya ketika gadis itu membuat sketsa bunga itu.

“Aku sangat suka bunga odamaki,” kata Asami kira-kira setengah jam kemudian.

“Kenapa?”

“Itu bunga yang paling manis di padang rumput.” Dia menyentuh kelopak bunga itu dengan jari-jarinya yang kecil dan runcing. “Kau tahu, kau bisa membuat teh dari bunga ini, tapi kalau kau keliru menakarnya kau mungkin akan mati. Bunga ini beracun.” Dia menelengkan kepalanya ke arahnya. “Bunga ini persis sepertimu.” Dia tertawa. “Aku akan meminumnya juga meski tahu akan mati.” Berkata begitu gadis itu tampak seperti patung porselen. Terpahat di dalam ingatannya.

***

Apa yang disebut cinta itu barangkali seperti neurotransmitter yang meluap di otak. Membuat orang merasa seakan sedang terjatuh. Pernahkah kau melihat orang yang sedang terjatuh mampu menolong dirinya sendiri?

“Jari mana yang paling kau sayangi?” Mereka sedang berbaring bersama menikmati angin musim semi. Asami memegang tangannya dan mempermainkan jari jemarinya. Dia mengaku punya ketertarikan tersendiri pada tangan manusia. Dia menggambar banyak sketsa tangan. Asami biasa menghabiskan waktu luangnya untuk melukis.

“Ibu jari mungkin.”

“Kenapa?”

“Dulu aku pernah mematahkannya sewaktu berlatih karate. Selama sebulan aku tidak melihatnya karena digips. Aku menangis karena kupikir jariku hilang atau semacamnya. Aku ditertawakan ibuku.”

“Kau tahu, ada suku di Afrika yang punya kebiasaan memotong jari orang yang berkhianat.”

“Benarkah?” Pagi sebelumnya Danurwenda pergi ke kantor pos untuk mengirimkan istrinya yang sangat suka menjahit, beberapa potong kain katun jepang. Bukti pengirimannya ada di saku mantelnya, dan karena Asami punya kebiasaan mengosongkan kantungnya mungkin saja dia tadi sempat melihatnya.

“Kau takut?”

“Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk merasa takut.” Dicintai oleh kekasih semacam dia membuat Danurwenda sangat sombong. Dia bahkan dengan bodohnya merasa yakin Asami tidak menginginkan sesuatu yang lebih serius setelah luapan hormonnya usai, sesuatu seperti menjadi tua bersama-sama misalnya, karena tahu itu akan merepotkannya. Itulah kenapa pembicaraan yang mengarah pada kecemburuan selalu berakhir tak lebih dari sebuah candaan.

“Kalau jarimu dipotong?”

Dia tertawa. “Kalau begitu aku akan menganggapnya seperti sebuah bekas luka dalam peperangan. Laki-laki biasa membanggakan bekas luka di tubuhnya.”

***

Bagaimana bisa aku berpikir meninggalkanmu adalah sebuah kebajikan dan mengkhayalkan surga sebagai imbalannya? Surga seperti apa yang tersedia bagi para kekasih yang meninggalkan cintanya di kaki nasib yang sama sekali tidak peduli?

Perpisahan itu dia hanya mampu mengingatnya samar-samar. Ada banyak kisah cinta di dunia, yang terlihat seakan-akan mampu mengobarkan seluruh api yang ada tapi kemudian padam dan menghilang dengan begitu saja.

“Bagaimana aku harus bertanggungjawab terhadapmu? Badan yang kugunakan untuk mencintaimu ini bahkan aku tidak memilikinya seorang diri.” Danurwenda mengulang pertanyaan itu setiap pagi dimana dia terbangun dan melihat Asami bergelung di ranjangnya.

Asami biasanya hanya tertawa dan mengatakan kalau tidak ada orang di dunia ini yang memiliki apapun untuk diri mereka sendiri. Tapi pagi itu, pagi di bulan November yang dingin, gadis berkata “Kau meresahkan dirimu dengan hal-hal yang tidak berguna atau kau mengatakan kau menyerah mengenai aku?”

“Mungkin salah satunya benar.”

“Kukira aku membawa kebahagiaan padamu.”

“Kau memang membawa kebahagiaan bagiku. Tapi aku adalah ketidakadilan bagimu.”

“Aku tidak pernah menganggapmu begitu.”

Percakapan seperti itu berulang beberapa kali. Danurwenda tidak bermaksud apa-apa, hanya menyatakan kesedihan di hatinya, tanpa menyadari kalau kata-katanya membebani Asami. Gadis itu menjauhkan diri perlahan-lahan dan benar-benar pergi sebelum dia menyadarinya.

***

Aku tak punya satu kata pun tentang cinta. Atau tentangmu.

Dia menatap halaman kosong itu dengan termangu. “Menjadi penulis ternyata tidak semudah yang kubayangkan,” katanya. Hanya seorang sadomasokis gila yang mau mengorek-ngorek luka di dalam hatinya sendiri demi sebuah tulisan.

“Jangan mudah menyerah.” Dia mendengar suara di belakangnya. Rupanya kata-katanya cukup keras untuk bisa didengar istrinya yang sedang memasak di dapur. “Tulisanmu kan bagus.”

Setelah berpisah dengan Asami dia mengirimkan tiket untuk istrinya dan mengatakan kepadanya kalau dia tidak tahan tinggal jauh darinya. Memerlukan waktu untuk mengurus visa tapi urusan itu selesai lebih cepat dari yang dia kira dan ketika istrinya datang dia merasa seolah telah seribu tahun berpisah dengannya.

Istrinya bahkan datang bersamanya saat pemakaman Asami. Istrinya mengatakan gadis itu tampak cantik di dalam peti matinya dan sepanjang perjalanan pulang ia menyatakan rasa kasihannya kenapa gadis yang begitu muda memilih menenggelamkan diri daripada meneruskan hidupnya. “Mungkin dia bertemu dengan pria yang tidak baik,” kata istrinya dengan kesedihan khas wanita. Danurwenda tidak mengatakan apa-apa. Istrinya mengenalnya sebagai orang yang selalu menyayangi siapapun yang dikenalnya jadi saat melihatnya murung ia hanya menyentuh tangannya dengan prihatin. Dia masih tinggal di Jepang selama dua musim panas berikutnya. Ketika bunga-bunga odamaki bermekaran dia menghindari berjalan-jalan di taman. Dia menjalin hubungan yang manis dengan istrinya dan pada awal tahun berikutnya istrinya melahirkan bayi yang cantik.

“Terima kasih,” katanya. Menutup file puisi itu. “Tak seorang pun sebaik kau mau mengatakan itu.”

Istrinya hanya tersenyum.


Catatan:

  1. Asa adalah huruf kanji yang berarti ‘pagi’
  2. Utsukushii adalah huruf kanji yang berarti ‘indah’
  3. Rikugien adalah taman yang terletak di Bunkyo-ku, Tokyo. Taman ini dibangun di tahun kelimabelas periode Genroku (1702) pada masa kekuasaan Tokugawa Tsunayoshi. Didesain berdasarkan puisi waka, dengan jalan-jalan setapak, gunung, kolam dan jembatan batu tempat menikmati cahaya bulan dan burung-burung bangau, yang menjadi tipikal taman di jaman edo. Taman ini terkenal dengan pohon weeping cherry, keyaki dan dodan tsutsuji berusia 300 tahun.
  4. Naitei Daimon adalah gerbang yang berada di dalam taman rikugien yang memungkinkan pengunjung untuk menikmati bagian pusat taman itu. Di dekatnya ada pohon weeping cherry yang sangat indah
  5. Odamaki adalah nama jepang untuk bunga columbine. Masuk dalam genus Aquilegia.Merupakan bunga liar yang tumbuh pada akhir musim panas sampai musim gugur, dapat ditemukan di padang-padang rumput, hutan dan lereng-lereng gunung. Columbine umumnya memiliki mahkota bunga berwarna biru, kuning hingga putih pucat. Tumbuhan ini memiliki bunga yang indah tetapi biji dan akarnya sangat beracun, penggunaan dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan pendarahan pada jantung dan organ dalam. Columbine sering dipakai dalam studi mengenai evolusi. Bila ditinjau dari bahasa bunganya columbine dianggap mempunyai arti ‘pasti akan kudapatkan’
  6. Secara sederhana, dapat dikatakan neurotransmiter merupakan bahasa yang digunakan neuron di otak dalam berkomunikasi. Neurotransmiter muncul ketika ada pesan yang harus di sampaikan ke bagian-bagian lain. Neurotransmitter berwujud senyawa organik endogenus. Dianggap berperan penting dalam perilaku individu. Contoh neurotransmitter yang dihubungkan dengan cinta adalah dopamine

 

Pernah dimuat di Majalah Horison edisi April 2016

Pelangi Sastra Malang sebagai “terminal” sastra di kota Malang memiliki program-program dalam bidang kesusastraan di antaranya: mendokumentasikan karya-karya sastra.