@griyabukupelangi

Judul Buku: Heavy Metal Parents; Identitas Kultural Metalhead Indonesia 1980-an
Penulis: Yuka Dian Narendra Mangoenkoesoemo dan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo
Penerbit : Octopus Publishing
Tahun Terbit : 2018
Jumlah halaman : 232


Awal ketertarikan saya terhadap buku ini adalah pada saat melihat cover buku dan memperhatikan font judul buku. Walau terlihat terlalu soft untuk ukuran heavy metal dan bergaya komik superhero Marvel dengan warna yang cenderung lembut dan font yang kurang sangar untuk ukuran metal, godaan buku ini sangat sulit untuk diabaikan begitu saja.

Hal yang menarik lainnya masih seputar cover adalah gambar sepasang kekasih yang mengenakan atribut kemetalan di ruang publik. Pasangan itu seolah ingin menegaskan sebuah resistensi jiwa metal baik dalam dunia yang semakin ngepop.

Sekilas buku ini menawarkan sebuah panorama bernostalgia di mana kegondrongan dan baju metal menjadi sebuah identitas subkultur pemberontakan jiwa muda. Atau mungkin sebuah pengantar untuk memasuki keriuhan metal dengan mengenalkan beberapa band metal dari dalam dapn luar negeri.

Setelah membaca lembar awal dari buku ini, kita akan tersadar bahwa ini bukan buku pengantar yang disajikan secara ringan kepada pembaca awam. Dari pengantar buku kita diberi informasi tersirat bahwa kita akan diajak agak serius dalam sebuah pendekatan kepada metal. Buku ini memang hasil dari sebuah penelitian yang dilakukan pada kurun waktu akhir 2012 hingga awal 2013.

Sang penulis, Yuka Dian Narendra Mangoenkoesoemo, lulusan pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, benar-benar mengerahkan keahliannya dalam mengumpulkan, mengolah dan menyajikan data tentang subkultur metal secara komprehensif. Berkerjasaman dengan Gita Widya Laksmini Soerjoatmodjo, Yuka membentuk sebuah rangkian forum group discussion sebagai konduksi pengalaman metal masing-masing audience.

Dalam menelusuri perkembangan musik metal, penulis sangat telaten dan jeli dalam memilah berbagai informasi yang didapat dari buku, jurnal penelitian dan majalah-majalah yang meliput tentang musik metal. Mulai dari hasil penelitian Jeremy Wallach yang concern dengan perkembangan musik pop di era akhir 90-an hingga Emma Blauch yang serius meneliti death/trash metal di Bali. Tak ketinggalan pula di sini dibicarakan majalah-majalah musik dari dalam negeri seperti Hai, Aktuil dan Vista hingga majalah musik metal luar negeri seperti Creem Metal, Hit Parader, Thrasher, Burrn, dan kerrang.

Bab satu buku ini berjudul Shout at The Devil: Konsumsi Metal dan Generasi Metal 1980-an di Indonesia. Pada era orde lama, pemerintah semakin kukuh dengan gagasan modernitasnya yang “kiri, progresif dan revolusioner”. Dengan hal ini, budaya barat merupakan musuh yang harus diperangi karena dianggap sebagai ancaman ideologi bangsa. Segala macam jenis representasi barat “dimusuhi” negara.

Namun modernisasi mengubah segalanya. Konsekuensi dari masuknya modernitas melalui duni pendidikan, perkembangan teknologi, dan perubahan sosial adalah semakin akrabnya anak muda dengan berbagai kesenangan dan hal baru. Salah satu kesenangan itu adalah musik. Mereka menjadi lebih sering berinteraksi dengan radio, piringan hitam, pemutar piringan hitam dan memainkan alat-alat musik barat seperti gitar, piano, drum dan lain-lain.

Anak-anak muda masa itu mulai mengaktualisasikan diri untuk menjadi modern. Mereka tidak lagi menganggap pendidikan sebagai satu-satunya jalan untuk menjadi modern. “Menjadi modernpun diartikulasikan sebagai tindakan ikut dalam arus hiburan dunia” (hal 2). Salah satu cara yang dipilih anak muda kala itu adalah bermain musik atau ngeband.

Pada fase itu band adalah tempat bertemunya modernisme kiri Indonesia dengan gagasan modernitas dari sisi lainnya, yaitu musik rock. Musik rock n roll yang dipercaya sebagai embrio musik rock datang menyerbu.

Melalui musik rock, anak-anak muda kala itu seolah mendapatkan jalan baru menuju modernitas yang lebih menyenangkan dibandingkan hanya melalui duduk di bangku kelas berhadapan dengan buku. “Melalui musik rock, modernitas menjadi dunia imajiner yang membius dan memabukkan. Namun pada saat yang sama modernitas menjadi mudah dijangkau” (Hal 3)

Pada era orde lama musik rock mendapatkan represi. Negara melarang kaum muda mengkonsumsi musik rock yang dianggap termasuk gaya hidup hedonis yang tidak produktif. Beberapa musisi pada saat itu pernah merasakan masuk penjara gara-gara aktivitasnya di dunia musik.

Setelah orde lama tumbang munculnya orde baru membawa perubahan haluan negara. Sebuah celah baru masuknya budaya barat mulai dibuka. Peluang tumbuhnya musik rock di Indonesiapun mulai muncul.. Namun di saat yang sama Soeharto sebagai pemimpin orde baru meninggalkan trauma yang mendalam bagi mahasiswa angkatan 60-an ketika program pembersihan ideologi komunisme pada awal pemerintahannya juga merangsek hingga ke dalam kampus. Sebuah teror baru yang membuat mahasiswa takut beraktivitas politik.

Baru pada sepuluh tahun berikutnyalah ketegangan menurun, dan musik rock sebagai salah satu item budaya barat bisa berkembang. Namun kebebasan yang ditawarkan Soeharto terhadap berkembangnya subkultur rock pada generasi muda merupakan kebebasan semu. Di satu sisi musik rock dibebaskan namun di sisi yang lain musik rock tidak diberi tempat. Ketatnya kontrol media massa dan pelarangan rambut gondrong serta celana cutbray sebagai paket yang tak terpisahkan membuat generasi rock masa itu tidak bisa sebebas-bebasnya menyalurkan aspirasinya.

Dalam pemaparan yang cukup panjang tentang masa lalu musik rock itu seolah-olah Yuka menekankan signifikansi historis sambungan benang merah antara rock dengan metal. Periode awal berkembangnya usik rock akan memberi pengaruh dan corak subkultur metal yang berkembang setelahnya.

Seiring berjalannya waktu, akhirnya musik rock bercabang menjadi berbagai macam genre musik. Salah satu dari cabang itu adalah heavy metal. Kemunculannya pada akhir tahun 70-an menimbulkan kepanikan di dunia barat.

Dalam buku ini kita bisa menemukan hal-hal unik atau mengingatkan lagi pada suatu peristiwa tentang metal dan perkembangan subkulturnya di Indonesia. Misalnya seperti lagu “Rock Bergema” milik ROXX yang disinyalir sebagai lagu heavy metal pertama di Indonesia. Poster Cafe sebagai salah satu dari sedikit skena heavy metal yang terbentuk di Jakarta pada awal 90-an. Dan mungkin yang paling fenomenal adalah kerusuhan pada saat konser Metallica pada tahun 1993 yang sampai membuat negara menetapkan siaga satu.

Dari buku ini pula kita disadarkan bahwa perkembangan subkultur heavy metal di Indonesia berbeda dengan yang terjadi di negara-negara lain. Kaset heavy metal yang banyak beredar pada saat itu adalah kaset palsu. Dengan urutan lagu yang tidak sama dengan piringan hitam atau kaset asli dan tidak ada gambar foto-foto group band pada kaset, maka masyarakat metal Indonesia tidak mengalami pengalaman visual seperti yang dimiliki oleh masyarakat metal dari negara lain sehingga mempunyai imajinasi musikal yang berbeda.

Metode Focus Group Discussion (FGD) yang digunakan dalam penelitian ini memberi kesempatan kepada masing-masing informan untuk saling bertemu dengan pecinta heavy metal lainnya dan saling menceritakan pengalaman masing-masing di masa muda awal sebgai seorang metalhead. Informan yang kini rata-rata sudah berkeluarga dan mempunyai anak itu secara antusias melakukan diskusi tentang bagaimana mereka menjalani hidup di era akhir orde baru dengan spirit resistensi heavy metal.

Walau sudah berada di usia yang tidak lagi muda dan harus mengurus keluarga, ternyata spirit metal tetap mempengaruhi sikap dan pandangan hidup mereka. Mengambil keputusan dalam pekerjaan, mengajarkan keberanian dan kepercayadirian, dan sikap resisten terhadap tekanan yang ada merupakan spirit yang masih tertinggal ketika mereka sudah tak seakrab masa muda lagi dengan musik metal. Spirit metal itu terus mengalir dan suatu saat nanti mungkin akan tersalur ke generasi selanjutnya.

Sebagai referensi tentang perkembangan culture studies dan musik metal di Indonesia, maka buku ini menempati posisi istimewa. Buku hasil dari penelitian ilmiah ini tersusun dari banyak sekali sumber rujukan. Suatu hal yang jarang terjadi dalam buku-buku pembahasan musik modern lainnya.

Di sisi lain buku ini hadir pada waktu yang tepat. Sedikitnya buku ulasan musik yang beredar di perpustakaan maupun toko buku membuat beberapa orang merasa kesulitan dalam mencari referensi musik heavy metal. Nah, buku ini hadir untuk mengisi ceruk yang masih kosong itu.

Untuk kekurangan dari buku ini adalah alur penulisannya yang agak kaku, khas karya ilmiah. Selain itu banyak kata-kata yang tidak lazim dipakai oleh pembaca umum seperti tersaturasi, leisure, juktaposisi, teramalgamisasi, tersuperimposisi, dan trajektori. Namun hal ini bukanlah alasan yang tepat untuk tidak menikmati buku Heavy Metal Parents ini dari awal sampai habis.

Enam esai di bagian akhir yang ditulis oleh para informan menambah ketegasan bahwa musik metal telah mendarah daging dan memberikan sentuhan musikal nan artistik pada bingkai sudut pandang metalheads dalam melihat kehidupan. Sebuah penutup yang sangat optimis bahwa spirit metal akan memberi sumbangsih besar bagi revitalisasi budaya anak muda di Indonesia. Salam metal!

lahir di Malang 28 September 1987. Pernah menamatkan belajar di Fakultas Ilmu Keolahragaan program double degree S1 Jurusan Ilmu Keolahragaan dan S1 Jurusan Pendidikan Jasmani. Pernah mempunyai pengalaman mengajar di beberapa sekolah dasar sebagai guru olahraga pada kisaran tahun 2008-2017. Tapi kini memilih terjun total ke dunia seni dan menulis. Di bidang musik sedang aktif membuat video dan musik bersama Andsamble Pete. Selain itu juga turut andil dalam menggarap album solo Han Farhani. Kini juga sedang berproses menggarap album lagu anak, album cover lagu berbahasa Perancis, dan album Instrumental. Di seni peran penulis pernah menjadi aktor di film Sepeda Never Die (2009), Global Warming(2009), Gareng Petruk (2011), dan Literasi (2017) yang semuanya diproduksi oleh Padepokan Film Indie (PAFI) Kota Malang. Pernah juga menyutradarai sejumlah penampilan teater anak antara lain Ande-Ande Lumut (2010), Putri KelilingDunia (2013), dan Sarip Tambak Yoso (2014). Pernah juga menyutradarai drama singkat berbahasa Inggris berjudul Fredy & Lewis (2006). Di bidang kepenulisan, penulis pernah ikut berkontribusi dalam buku antologi puisi Ponari For President (Babel Publishing, 2009), antologi cerpen Wanita Lima Musim (ARS, 2015), dan buku antologi cerpen pribadi Perlawanan Jiwa (ARS, 2015).  Bisa dijumpai melalui email [email protected] atau akun instagram @kukuh_bz