Sajak-sajak Wahyu Prasetya; Amsal Coitus Pertama

Ilustrasi: Lechuguillas

Amsal Coitus Pertama

ranjang yang kubeli dengan angsuran
ternyata membawa berkah pada sejarah nadiku
menabung desah berat dan gelisah
hingga kusulurkan kembali hikayat buah apel
dalam dekapanmu

seolah memintal ombak laut yang bebas menari
mengalunkan dzikir dalam pejaman
bertahan juga rintih atau keluhan di lepaskan
saat gemetar dada tak mampu bersembunyi

bagai kudengar lagi angin dan debu berpusing
menjelma dari bising lalu begitu hening

Dumai, 1985

 

Amsal Tepi Kali Code

ada saja harapan yang melereng di tebing atau riak
pedih coklat dan bahagia mengapung lebih setia
menganyam duka pada batu kecupak nyeri lumut dadaku

Tuhan, bergolak lagi gemuruh kota yang tak mau tidur
seperti menceburkan beribu surat dan kabar getirnya
yang bertahun selalu kelipat pada kertas buangan untuk
mainan

sebagai sampan atau bahtera yang melarungkan kasihku
ada saja nasib yang menepi dari keangkuhan gairah sendiri
turut ngalir rasanya mencari muara dalamku
untuk singgah pada lain cakrawala

1985

 

Amsal Tugu

diserahkan waktu batu yang ibuku menunggu
menatap war-wer yang membawa ayat istri anak-anakku
penengadah memanjat hikmah
tujuh kembang tujuh persimpangan
dibasuhnya kening dibasuhnya rupa
untuk menerima nasib baik yang pernah setia
dilepaskan waktu batu yang ibuku menunggu
menyaksikan kecemasanku yang kitabkan hikayat
dari jarah semangat bapakku dalam album
yang kini pasrah memandang dari kedua mataku

1985

 

Amsal Los Pasar

(antara ngasem – beringharjo)
ya langkah itu ke itu juga menemani terik
tak lagi menghindari matahari di saku celana
dan gemuruh sejuta kota yang berebutan di dada
teriak menyapaMu dari satu lorong
seperti menawarkan bisa dengan senyuman
ya puisi itu ke itu juga dikantongi hujan
tak sanggup melunasi harga cinta yang dibungkus
sudahlah jalan saja ke mana lagu disiulkan
kerna basah atau kering di lahir di batin
menemuiMu dari riuh. doa serta harapan yang koyak
tepat di lambungnya.
ya jalan lain ke pembaringan
langkah atau puisi ditidurkan
setelah kaki dan tangan dengan gemas dijahitkan
pada kelahiran pada kematian
ya sendirian Tuhan!

1985

 

Pernah dimuat di Pusara pada edisi Februari 1986

Lahir 5 Februari 1957 di Malang, Jawa Timur dengan nama Eko Susetyo Wahyu Ispurwanto. Mulai menulis sejak 1979 dan karya-karyanya telah tersebar di berbagai media massa di dalam dan luar negeri, antara lain: Horison (Jakarta). Bahana (Brunei), dan Dewan Bahasa (Kuala Lumpur). Dia juga pernah mengembara ke sejumlah negara ASEAN pada tahun 1982 dan sempat bermukim di Berlin (1983-1985). Nama Wahyu Prasetya termasuk sosok yang diperhitungkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dalam forum Puisi Indonesia 1987 yang digagas DKJ. Puisi-puisinya juga tergabung dalam sejumlah buku bersama dan tunggal, seperti Nafas Telanjang (bersama Bambang Widiatmoko, 1980), Tonggak IV (1987), Antologi Temu Penyair Indonesia (1987), Dialog Penyair Jakarta (1989), Amsal Patung (1997), dan Sesudah Gelas Pecah (1996). Penyair yang buku puisinya pernah diterbitkan oleh Sorbone University-Paris dan Forum Sastra Bandung ini telah ‘berpulang’ pada Rabu, 14 Februari 2018 di Bekasi.