Yang Tak Mempunyai Akar Pasti Tumbang

Coba pikir dan bayangkan, ungkap Pungky (panggilan Wahyu Prasetyo) sewaktu ditemui di rumahnya. Dari sekian banyak penyair generasi 80-an, tinggal berapa gelintir yang bertahan. Siapa sangka mereka bisa begini, padahal saat sekarang ini, kita yang harus bermain. Sayang teman-teman tidak dapat mengimbangi, masa harus aku terus bersaing dengan yang baru-baru. Dan penjelasan berikutnya di tengah asyiknya menghabisi batangan rokok tiada jemu itu terdengar meyakinkan, bahwa kelambanan generasi 80-an yang tersungkur itu dirasakan tidak mempunyai akar dan pasti akan tumbang.

Yang diucapkan Wahyu Prasetyo ini suatu kenyataan dan sangat sulit dibantah, mengingat terbukti memprihantinkan apabila mengamati ruang budaya ‘puisi’ dewasa ini kerapkali dijumpai nama baru. Kedatangannya memang beralasan serta tepat, sebab kurang lebih banyak yang membawa problematika kekinian dan itulah yang paling menarik sekali. Sementara generasi 80-an hanya terpukau dengan pola lamanya yang mendayu-dayu, sehingga seperti tidak mencuatkan gejolak pembaharuan dalam puisinya yang dikedepankan itu.

Terpenting lagi dan perlu dicatat, terasa sulit bergabung dalam percaturan puisi-puisi di dekade 90-an tentunya. Di mana semua yang hadir saling obral-obralan gagasan. Ini sungguh mendominasi sekali dalam trend penciptaannya. Termasuk penyair yang diwawancarai sekarang ini, eksistensinya tetap stabil semenjak mulai berangkat nulis tahun 1978 hingga kini tetap bertahan. Malah dikenal luas tekun mencari ‘kata-kata’ baru yang belum pernah digunakan oleh yang lainnya, dan sepertinya telah menjadi panutan sekarang.

Penyair nyentrik ini selain menyair juga membuat cerpen dan esei. Juga pernah mengulas konser di Berlin tahun 83 sampai 85-an. Sempat menjadi redaktur ‘buletin’ PPI wilayah Jerman, dan sewaktu ngedon di Jakarta hingga detik ini, prnah pula mengasuh ruang budaya skm Swadesi tetapi tidak lama. Saya hanya merintis saja, kilahnya diplomatis.

Sungguh mengherankan keterkenalan penyair satu ini. Untuk penggemar SASTRA INDONESIA siapa tidak kenal dia, maklum itu diperjuangkannya dengan gigih menerobos berbagai media seluruh nusantara. Tidak tanggung-tanggung memang, sebab karyanya sempat menyebar di Aceh, Medan, Padang, Kalimantan, Manado, Ambon, Bali dan Mataram. Termasuk menyelusupkannya di semananjung Malaysia dan negeri minyak Brunei Darusallam. Itu pun dilakukan sewaktu berpetualang di negeri negara Asean. (Pudwianto Arisanto).***

Pernah terbit di Pikiran Rakyat edisi Cirebon pada bulan Oktober 1991

Pelangi Sastra Malang sebagai “terminal” sastra di kota Malang memiliki program-program dalam bidang kesusastraan di antaranya: mendokumentasikan karya-karya sastra.