Kabar Menggembirakan dari Dewan Kesenian Jakarta 2018

gambar: post santa

Semalam (5/12) kami mendapatkan kabar yang menggembirakan mengenai salah satu pegiat komunitas Pelangi Sastra Malang meraih juara 1 sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Kabar ini tentu selain menggembirakan, juga sangat mengharukan. Ia adalah Felix K. Nesi, pria asal Nusa Tenggara Timur yang pernah berproses di kota Malang.

Saat di Malang, Felix menempuh studi di Universitas Merdeka (Unmer). Aktif di KOMSEN Unmer dan mendirikan komunitas Titik Sastra, serta bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang. Setelah menyelesaikan studi di Universitas Merdeka, Felix kembali ke Nusa Tenggara Timur dan bergerak di komunitas Leko Kupang dan sepenuhnya hidup dari menulis dan berjualan buku. Sebelum lulus dari studinya di Universitas Merdeka, manuskrip kumpulan cerpennya kami terbitkan dengan judul Usaha Membunuh Sepi (Pelangi Sastra, 2016). Sejak aktif berproses di Malang, Felix telah menunjukkan kegigihannya serta bersungguh-sungguh dalam berproses kreatif.

Manuskrip novel Felix terpilih menjadi juara 1 dari 245 naskah yang dikurasi oleh panitia. Kami tentu tak menyangka hal ini, walau ketika mendengarkan kabar bahwa ia sedang berkunjung ke Jakarta untuk menghadiri malam pengumuman pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta, kami menaruh harapan penuh setidak-tidaknya ia bisa keluar dari gedung acara dengan membawa angin segar.

Felix K. Nesi merupakan penulis yang cukup serius mengeksplorasi teknik menulis serta persoalan, sesuatu, maupun kemungkinan yang terdapat di daerah kelahirannya maupun sesuatu yang telah tertangkap melalui mata-pengamatannya. Hal ini terbuktikan dari empat kriteria penjurian Dewan Kesenian Jakarta, antara lain: kecakapan berbahasa Indonesia, kepengrajinan sastrawi, kebaruan dan keselarasan bentuk dan isi. Penjelasan mengenai hal tersebut bisa dibaca lebih lanjut di Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2018.

Kabar menggembirakan lainnya tak hanya berhenti di Felix. Ternyata, Moch Nasrullah yang akrab disapa Nasrul pun meraih juara 3 sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Walau Nasrul tak bergiat di Pelangi Sastra Malang, dalam beberapa kesempatan kami pernah bertukar cerita sambil mengopi pada suatu kedai kopi. Ia saat ini tinggal di Malang untuk menyelesaikan PPG (Pendidikan Profesi Guru) di Universitas Negeri Malang.

Felix maupun Nasrul adalah angin segar kesusastraan di Malang saat ini dan semoga pencapaian mereka berdua turut menjadi bara semangat untuk masyarakat sastra lainnya di kota Malang.

Selamat untuk kalian berdua. Tetap menyala!

Pelangi Sastra Malang sebagai “terminal” sastra di kota Malang memiliki program-program dalam bidang kesusastraan di antaranya: mendokumentasikan karya-karya sastra.