Kisah Gelap Percintaan dan Ketertindasan Perempuan

Foto: @griyabukupelangi

Judul Buku: Waktu untuk Tidak Menikah
Penulis: Amanatia Junda
Penerbit: MOJOK
ISBN: 978-602-1318-76-8
Cetakan Pertama: Oktober 2018
Halaman: 178 halaman


Penerbitan kumpulan cerita pendek “Waktu untuk Tidak Menikah” karya Amanatia Junda adalah sebuah terobosan yang menarik dalam memaknai terma “menikah” akhir-akhir ini. Bahasa “menikah” di ruang publik dan media sosial tengah tertarik-tarik dalam gelombang konteks sosial yang terus berubah. Dua gelombang sosial yang menonjol adalah, pertama, kemunculan gerakan “anti-pacaran” dan “segera menikah” yang diinisiasi oleh sejumlah kelompok islam dan, kedua, hubungan laki-laki dan perempuan yang terkapitalisasi dalam industri dan komodifikasi hubungan percintaan.

Kelompok pertama menghasilkan narasi bahwa untuk menghindari kemaksiatan pacaran atau hubungan laki-laki dan perempuan maka menikah adalah solusi terbaik. Menikah menjanjikan terjaganya kesucian seseorang. Menikah adalah gerbang surga. Kelompok kedua menjadikan cinta dan kapitalisme bergandengan erat. Kata-kata semacam jomblo, single dan sendiri adalah berhubungan dengan penderitaan. Sementara menikah adalah jalan keluar terbaiknya. Walhasil, industri percintaan bergeliat dalam acara-acara televisi, film dan sinetron hingga media aplikasi pencari jodoh. Kedua-keduanya mengafirmasi bahwa pernikahan adalah gerbang menuju keindahan dan kegembiraan.

Dalam beberapa hal, pemaknaan “menikah” oleh kedua kelompok ini juga benar adanya. Namun, dengan masih tingginya angka pernikahan anak usia dini dan banyaknya angka perceraian di Indonesia, istilah “menikah” perlu ditafsirkan ulang secara progresif dan lebih dekat dengan problem masyarakat terutama kaum cilik  yang menjadi mayoritas di negeri ini.

Dalam hal ini, alih-alih menceritakan hubungan pernikahan yang penuh kesenangan, Amanatia Junda malah menulis tentang kisah cinta yang gelap, kelam, penuh penderitaan dan mengenaskan. Kisah cinta kelabu ini tidak berdiri sendiri namun hal ini berakar dari ketimpangan sosial, ketidakadilan gender, balutan kemiskinan dan cengkeraman kapitalisme dalam urat nadi kehidupan para buruh dan pekerja-pekerja kecil.

Cerita pendek ini menghadirkan bahwa pernikahan tidak hanya tentang kebahagiaan, tapi kepedihan dan kesengsaraan yang berpaut dengan kemiskinan. Bahwa kegagalan pernikahan dan kepedihan kisah cinta sangat erat kaitannya dengan struktur budaya dan ekonomi yang masih menindas perempuan.

Dalam cerpen “Waktu untuk Tidak Menikah” semisal.  Tokoh utamanya adalah Nursri, seorang buruh perempuan yang terlunta-lunta. Ia bekerja di sebuah pabrik di kota industri dengan kamar mandi yang jorok, ketidaktersediaan air, kemacetan angkutan umum, dan kisah cinta yang menyebalkan. Pernikahan mengharuskannya untuk kembali ke desa dimana ia harus melepaskan pekerjaannya di kota yang dulu dan belum tahu akan kerja apa walau ia telah kursus menjahit. Padahal, sebelum menikah, ia telah memiliki seorang anak dengan pacarnya yang dulu. “Waktu untuk Tidak Menikah” adalah sebuah keputusan dari kompleksitas permasalahan yang dialami seorang buruh perempuan, kakak laki-lakinya, ibunya dalam penindasan budaya dan ekonomi yang tidak mampu mereka lawan.

Salah satu cerpen dalam kumcer ini adalah “Baru Menjadi Ibu”. Cerpen ini mengisahkan tentang perempuan yang tertindas sedalam-dalamnya. Ia diperkosa di dalam angkutan umum, kemudian diceraikan suaminya hingga kemudian terlunta-lunta mencari nafkah untuk dirinya dan anaknya dengan menjadi penjahit baju. Perempuan ini berakhir dengan menjadi seorang pesakitan  yang gila.

Kekerasan seksual masih menjadi masalah di negara ini. Dalam laporan tahunan yang berjudul “Tergerusnya Ruang Aman Perempuan dalam Pusaran Politik Populisme”, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) melansir bahwa kekerasan terhadap perempuan pada 2017 mencapai 348.446 kasus dengan 2.979 kasus berupa kekerasan seksual. Sebelumnya, Komnas Perempuan mencatat kekerasan seksual yang terjadi di tahun 2016 terdapat 5.785 kasus, 6.499 kasus di tahun 2015 dan 4.475 kasus pada 2014. Walaupun tren kekerasan terhadap perempuan dan anak terlihat naik turun namun jumlahnya masih cukup tinggi.

Dengan terus menyuarakan apa yang akan dirasakan oleh korban, sastra setidaknya mampu menyentuh hati nurani kemanusiaan bahwa kekerasan seskual adalah perbuatan yang sangat keji. Dalam cerpen “Baru Menjadi Ibu”, kekerasan seksual digambarkan dengan begitu ngilu dan pedih.

Lelaki itu mendesak dudukku agar kugeser sedikit posisiku ke sudut angkot. Lelaki itu mendesak dudukku agar kugeser sedikit posisiku ke sudut angkot yang tak lagi menyisakan ruang untuk bergerak bebas. Lelaki itu mendesak dudukku agar kugeser sedikit posisiku dan ia memosisikan dirinya senyaman-nyamannya untuk gerakan yang kasar dan –- (hal. 59)

Cerita-cerita pendek dalam buku ini, tentu juga dengan kisah cintanya, sangat dekat dengan kehidupan kaum pinggiran yang secara diam atau lantang mencoba menepis segala masalah yang mendera mereka. Seperti dalam cerpen “Pada Jarak yang Memisahkan Kami” yang berkisah tentang seorang aktivis yang mengadvokasi masalah sosial, “Lantai Tiga Beringharjo” bertutur tentang kesulitan-kesulitan yang dialami oleh para pedagang yang mengais hidup di pasar, “Sepasang Bulu Mata Merah”  bercerita tentang penolakan ribuan buruh pabrik bulu merah yang menuntut langsung hak-hak mereka kepada dunia hiburan yang menindas.

“Saya yakin, kejadian ini adalah buah dari rasa ketidakpedulian dunia hiburan terhadap kesejahteraan warga, yang mayoritas penghidupannya ditopang sektor industri bulu mata dan rambut palsu. Leluhur mungkin sedang mengamuk, mewakili perasaan puluhan ribu buruh di kabupaten ini.” (hal. 137)

Sebagai seorang perempuan, Amanatia juga cukup berhasil membahasakan penderitaan yang dialami oleh perempuan yang kerap terpinggirkan dalam pergaulan sosial, ter-marginal-kan dalam hubungannya dengan laki-laki dan tertindas dalam struktur budaya patriarki yang berkelindan dengan sistem ekonomi. Melalui bahasa perempuan inilah, Amanatia meramu kisah cinta yang pilu di satu sisi dan menyuarakan gugatan dan perlawanan terhadap ketidakadilan terhadap perempuan di sisi yang lain.

 

 

 

 

Lahir di Sidoarjo, 10 Oktober 1993 Alumnus Sastra Inggris Fakultas Humaniora, UIN Maliki Malang. Bergiat di komunitas Pelangi Sastra Malang.