Tirakat Semesta dalam Personifikasi dan Metafora

Foto: Griya Buku Pelangi

Judul: Pemeluk Angin
Penulis: Dewi R. Maulidah
Kategori: Kumpulan Puisi
Penerbit: Pelangi Sastra Malang
Tahun: 2019
ISBN: 987-602-5410-74-1


Kosmologi alam semesta merupakan totalitas dari seluruh entitas dan proses yang―akan, sedang, dan telah―terjadi dalam tiap rentang waktu. Keberadaan manusia dan segala ihwal kehidupan termasuk dalam hakikat proseduralnya. Manusia dan alam membangun sebuah eksistensi yang kompleks. Kompleksitas ini terekam dalam cuplikan buku kumpulan puisi Pemeluk Angin gubahan Dewi Rizki Maulidah berikut:

Tak lebih dari hujan yang berulang / kembali bermukim pada awan. / Sedangkan kita hanya menumpuk perjanjian / yang tiada tuntas didaur ulang. / Kita kumpulkan/ yang akan menjadi peristiwa / serupa ada di masa beda. (Dari Kebun ke Perut, hal. 45)

Tubuh manusia (jagat cilik) dan tubuh alam (jagat gede) sejatinya bersinergi, beradaptasi dan berasosiasi. Tetumbuhan, hewan, dan unsur bumi lainya menyokong kehidupan manusia, begitu pun manusia menyokong kehidupan alam. Alam memberikan sumber daya, manusia mengelola sumber daya. Alam menghasilkan oksigen, manusia menghasilkan karbondioksida.

Buku kumpulan puisi Pemeluk Angin menempatkan diri dalam dimensi personifikasi dan metafora alam yang memungkinkan terjadinya proses kognitif dan elaboratif perihal morfologi semesta dan siklus kehidupan yang berlangsung di dalamnya. Itulah mengapa semua yang berasal dari alam selalu dapat dijadikan gerbang epistemologi dan mimesis untuk mencapai katarsis―salah satunya spiritual.

Memahami alam semesta, berati mencoba memasuki dan mengidentifikasi unsur eksistensi kosmos secara konseptual. Tanpa mengetahui makna tingkatan keberadaan (levels of being), manusia tidak akan dapat memahami dunia atau menentukan kedudukan dirinya, serta perannya dalam menjalankan laku hidup (Schumacher, 1981). Unsur kolaboratif tersebut dapat diklasifikasikan sebagai fisikokhemis, hidup, kesadaran, dan penyadaran diri.

 

Semesta Majas

Mengacu pada definisi Glotfelty yang meluaskan ekokritik pada ekokritisisme kultural, ekokritik menggarap berbagai gagasan dan representasi lingkungan dalam beragai ruang budaya yang besar (Garrard, 2004). Ekokritisisme itu sendiri dapat dibatasi sebagai studi tentang hubungan antara karya sastra dan lingkungan fisik.

Kumpulan puisi Pemeluk Angin tentu tidak terlepas dari proses kognitif maupun pengalaman empiris berupa hasil observasi terhadap majas-majas ekologis yang menitikberatkan pada citraan metafor dan personifikasi. Proyeksi alam yang hidup, bergerak, bahkan merasa, selain menambah nafas dan metrum puisi, juga merangsang hadirnya asumsi baru yang signifikan.

Hal di atas dapat disimulasikan dalam tinjauan subjek terhadap tumbuhan di dalam pot, misalkan, muncul sebuah premis bahwa tumbuhan akan besar jika tumbuh di tanah lepas. Itulah sebabnya ada hutan yang berperan sebagai jantung kota. Tumbuhan yang hidup di pot akan terhambat pertumbuhannya karena mengalami penyempitan, belum lagi kompatibilitas dengan tanah dan jenis pot yang dipakai. Premis itu kemudian melahirkan asumsi baru yang berimplikasi pada substansi dan konstruksi puisinya.

Berkaca pada perspektif ekokritik, kumpulan puisi Pemeluk Angin memusatkan analisis budayanya pada green moral dan (mungkin) beberapa agenda politis. Dalam hal ini, ekokritisisme berhubungan erat dengan pengembangan teori filsafat dan politik yang berorientasikan pada lingkungan. Tentu ini akan berimplikasi pada diksi dan majas-majas yang dipakai untuk mengonstruksi tubuh puisi, misalkan:

Rinduku setangkup perahu / yang berlayar tanpa sauh. / Air berenang di ruang samar. / Kukayuh gelombang menuju kabar. / Ikan-ikan melayang / menyerupa angan-angan / yang terarus jantung awan (Rinduku Setangkup Perahu, hal. 85)

Urgensi ekokritisisme dalam karya sastra dapat disampaikan melalui sejumlah pertanyaan, seperti: (1) Bagaimana alam direpresentasikan dalam puisi? (2) Peranan apa yang dapat dimainkan oleh latar fisik (alam) dalam karya sastra? (3) Apakah nilai-nilai yang diungkapkan dalam puisi, novel atau drama konsisten dengan kearifan ekologis (ecological wisdom)? (4) Bagaimana metafor daratan (bumi) dan laut berperan? Fondasi dasarnya adalah bahwa karya sastra memiliki hubungan dengan lingkungan alam. Dengan demikian, ekokritisisme menjadi jembatan bagi keduanya.

 

Menua bersama Alam

Di Jawa, sebagai masyarakat agraris, masyoritas orang Jawa memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan alam. Bahkan, dalam banyak kasus, demiakian akrabnya orang Jawa dengan alam, sampai terkesan mereka amat memanusiakan pohon, hewan, kayu, batu, gunung, sungai, tanah, dan unsur alam yang lain, sehingga dapat diajak berkomunikasi sambung rasa seperti halnya manusia.

Beberapa buktinya, dahulu, anak-anak dilarang kencing di sungai dan parit, karena sungai juga rumah bagi ikan, cacing, ketam, anggang-anggang, lumut, yang hidupnya bisa terganggu oleh air kencing itu. Memotong dahan atau mematikan pohon yang tidak perlu juga merupakan pantangan karena tumbuhan merupakan saudara di dunia. Membunuh semut hitam juga tidak boleh, karena mereka adalah contoh pekerja keras yang tak peduli waktu.

Keberadaan alam yang sudah demikian dekat nyaris menyatu dengan kehidupan, pada saatnya telah mendorong terjadinya peningkatan pemahaman entitas subjek terhadap nilai makna yang dikandungnya. Pelan namun pasti, pandangan mereka pun berkembang meninggalkan hubungan yang bersifat relasi material dan fisikal belaka.

Pada pagi yang kureraskan meski telah menyelam. / Hatur embun yang kulukai. / Sejenak, untuk mengerti / meski terasa mati. / Hingga kujumpai pagi, lagi./ Pagi yang menepati janji. (Kelopak Pagi, hal. 5)

Petikan puisi di atas menunjukkan, bahwa alam bukan lagi sebatas flora dan fauna atau unsur alamiah yang berdaya guna. Namun telah menjadi fenomena yang merasuki dimensi spiritual, filosofis, dan pemikiran. Sekali waktu menjelma sedulur sinarawedi, lain waktu menjadi formula simbol atau padanan dalam ranah kreativitas―sastra, dalam hal ini puisi yang unsur gaya bahasanya sangat potensial.

Jika di Jawa terdapat ajaran tapa ngrame, yakni bertapa di keramaian, maka puisi menjadi salah satu manifestasi dari pergolakan batin dalam proses lakunya. Kesadaran kolektif dalam laku ini tentu berbeda dengan laku wanaprastha atau menyepi di tempat-tempat tinggi seperti puncak gunung, atau di hutan yang sepi, yang jauh dari aktivitas publik.

Perbendaharaan puitika berdasarkan laku tapa ngrame lebih kaya karena subjek mendapatkan lebih banyak premis ‘langsung’ dari percaturan dunia. Namun, pada akhirnya, baik tapa ngrame ataupun wanaprastha dalam laku puitika tetap menjadi sebuah tirakat kasunyatan (spiritualitas) dalam rangka menjaga kesadaran (olah pikir) dan mencapai estetika tertinggi dalam ranah spiritual (olah rasa). Upaya ini setidaknya telah terangkum dalam banyak larik dan bait kumpulan puisi Pemeluk Angin yang juga menghimpun khazanah lokal di dalamnya.

Lahir di Sumenep, 16 Juli 1995. Bergiat di Komunitas Pelangi Sastra Malang. Cerpen-cerpennya tergabung dalam antologi Secangkir Kontradiksi (2015), Orang-orang dalam Menggelar Upacara (2015).