Ramadan dalam Lensa Sastra

Ilustrasi: @muslimshow

Ramadan adalah bulan istimewa bagi umat muslim yang menjadi penduduk mayoritas di negara ini. Bulan puasa selalu diiringi dengan ibadah keagamaan yang telah berakar kuat sejak dulu kala seperti tarawih berjamaah, tadarus malam, sahur keliling hingga buka bersama. Tradisi dan ritual yang melingkupi Ramadan menelurkan kenangan, pengalaman, perjumpaan dan perpisahan yang  terpatri dalam hati segenap muslim. Termasuk para pengarang.

Kedatangan Ramadan adalah kehadiran harapan akan kenikmatan yang disajikan oleh Tuhan. Begitu juga para penyair, yang melalui pengalaman batinnya, mencatat perjumpaan harapnya dengan bulan ini melalui puisi. Seperti yang ditulis oleh Djoko Saryono dalam “Solilokui Ramadan”(2017).//Gusti, ramadan-Mu telah di muka pintu diri: menenteng janji-janji indah/keselamatan hidup insani di bumi dan negeri abadi. Melampaui wangi wijaya/kusuma yang mengarungi urat nadi: mengharumi jalan-jalan nafas kehidupan/yang melayarkan rakit eksistensi//

Di bulan ini, masyarakat berbondong dan berlomba dalam penghambaan kepada Tuhan. Gairah keagamaan meluap-luap. Semangat ibadah ini terekam dalam teks-teks sastra. Geliat psikologis yang tak terpermanai ini terlukis dalam narasi-narasi Mahfud Ikhwan dalam novel “Kambing dan Hujan” (2015).…Cuaca, jenis apapun, selalu bukan lawan sepadan bagi semangat membara orang-orang Centong berburu pahala pada sepanjang bulan utama…orang Centong yakin pada malam macam itulah pahala-pahala diumbar, pengampunan Tuhan ditebar, dan ancaman api neraka dipadamkan. Malam-malam berhujan, di desa pada tengah tegalan itu, adalah kesempatan terbaik amalan-amalan dilipatgandakan, dzikir-dzikir dibanyakkan dan ayat-ayat Al-Quran tak putus dilantunkan. (hal. 233)

Dari Tradisi hingga Pusaran Konflik

Melalui gurat pena para pengarang lah, ‘bentuk-bentuk’ Ramadan tercatat. Ramadan dalam karya sastra, tidak hanya sebagai penanda waktu saja, tetapi juga sebuah wahana kontestasi dan perdebatan untuk mengimajinasikan ramadan yang ‘ideal’. 

Ramadan selalu datang tiap tahun. Namun, masyarakat terus berkembang baik dalam skala besar ataupun percik-percik perubahan dalam tataran lokal yang lebih kecil. Kehadiran Ramadan pasti terikat dengan lanskap budaya, sosial dan politik dari perkembangan masyarakat yang mengiringinya.

Pada masa orde baru, sebelum pelantang suara dan listrik merajalela, bedug adalah alat komunikasi utama dalam menyuarakan semangat keagamaan di langgar-langgar dan masjid-masjid. Bedug adalah segores tradisi yang pernah jaya pada zamannya. Dentumannya menjadi penanda setiap hela informasi yang sampai kepada masyarakat. Mungkin, fungsi sosial bedug pada zaman sekarang sudah tidak sevital dulu walaupun perannya masih ada. Teknologi yang lebih canggih yang mampu menghantarkan suara dalam radius yang lebih luas lebih menjadi pilihan.

Djamil Suherman dalam kumpulan cerpen “Umi Kalsum dan Kisah-Kisah Pesantren Lainnya” (1984) mencatat fungsi sosial bedug dalam tradisi penyambutan Ramadan ini dengan detail. “Biasanya bunyi bedug panjang itu ditabuh orang pada permulaan bulan-bulan puasa untuk memberi tanda bahwa bulan suci sudah tiba. Atau dilakukan pada tengah malam, sebagai tanda membangunkan mereka yang hendak melakukan doa dan sahur. Atau pula dilakukan orang lepas sembahyang tarwih dengan irama tersendiri, saat kami para santri dengan sarung dan baju bersih serta kopiah lurus tunduk khusyu’ bertadarus semalam-malaman di surau…Kami bertadarus ganti-ganti. Berputar dari ayat ke ayat, juz ke juz sampai jauh malam. Dan manakala bedug berbunyi adalah tanda sudah pukul dua belas malam.” (hal.8)

Sastra dalam hal ini menjadi lensa jitu untuk memotret peristiwa sosial pada zamannya yang sekaligus sebagai alat dokumentasi untuk menilik perkembangan masyarakat pada masa-masa sesudahnya. Coretan para sastrawan inilah yang akan memperkaya studi antropologi sosial dari kacamata sastra. 

Sastra indonesia, berkaitan dengan Ramadan, tidak hanya merekam tradisi belaka. Kesusasteraan Indonesia telah bergerak ke arah yang lebih maju. Ia juga mencatat percik peristiwa sosial yang mengarah kepada konflik di masa-masa Ramadan akibat perbedaan-perbedaan pandangan yang terjadi di masyarakat. 

Di Indonesia, kita mengenal ragam organisasi islam yang memiliki corak dan tradisi yang berbeda. Kita mengenal Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Front Pembela Islam, LDII dan masih banyak lagi. Ketidaksamaan itu mengental dan menajam di bulan Ramadan. Dalam menentukan awal Ramadan saja, umat islam berbeda pendapat. Jumlah rakaat tarawih pun masih terus menjadi ajang perdebatan. Ritual-ritual ibadah sesama muslim bisa jadi sangat berlainan satu sama lain

Roman “Kambing dan Hujan” karya Mahfud Ikhwan merekam perbedaan pandangan dan tradisi antara dua organisasi muslim terbesar di Indonesia yaitu Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Bulan Ramadan dimana perbedaan menukik juga tak luput dari catatan. Tak ada yang lebih menghangatkan Ramadan di Centong kecuali terkuaknya kembali—dan untuk kali kesekian puluh-sejarah panjang perbedaan antara dua masjid yang hanya terpisahkan jalan…Karena jika diandaikan di antara dua masjid itu terdapat sepuluh beda, tujuh beda bisa ditemukan di bulan Puasa (hal. 233)

Mahfud berkisah bahwa perbedaan pandangan antara Masjid NU dan Masjid Muhammadiyah di desa Centong itu telah berjalan dari zaman pemberangusan PKI hingga era reformasi, namun masyarakat terus saja untuk membahasnya, membanding-bandingkannya, mengutak-atiknya dan—kalau ada kesempatan dan ada sedikit gara-gara mempertengkarkannya. (hal. 234)

Mahfud dengan jujur meletakkan Ramadan dalam konteks sosiologis masyarakatnya bahwa perbedaan itu benar-benar ada dan terkadang dipermasalahkan. Ia bercerita bahwa eskalasi konflik bukanlah karena problem keagamaan an sich, namun juga berkelindan dengan dendam pribadi. Alih-alih mengelaborasi konflik, Mahfud menawarkan sebuah strategi rekonsiliasi untuk menciptakan harmoni keberagamaan di desa tersebut. Pernikahan Miftah-Fauzia (anak Kiai NU dan anak Kiai Muhammadiyah) menjadi simbol toleransi dan kelahiran generasi baru yang menjunjung tinggi pendidikan, kebangsaan dan kedewasaan beragama.

***

Ramadan adalah bulan yang dinanti setiap muslim untuk mencecap indahnya beribadah. Banyak muslim memusatkan ibadah pada bulan ini. Namun, ada beberapa kelompok yang tidak mampu secara bebas melaksanakan ibadahnya. Orang fakir miskin, kaum marginal hingga golongan minoritas mendapatkan tekanan sosial untuk dapat menjalankan apa yang menjadi kepercayaan mereka. 

Salah satunya tergambarkan dalam novel “Maryam” (2012) karya Okky Madasari yang berkisah tentang pemeluk Ahmadiyah yang terusir dari tempat tinggalnya. Pengusiran yang bermula dan terjadi di bulan puasa. Mereka merasakan ketidaknyamanan beribadah akibat konflik sosial. Hal itulah yang ditulis oleh Okky melalui pergulatan emosi tokoh-tokohnya, utamanya Maryam, dalam menghadapi kekangan dalam menjalankan agama.

“Saat menunggu Ustaz mulai memimpin pengajian, suara dari masjid jelas terdengar. Orang itu sedang bicara soal kelompok aliran sesat. Nama Ahmadiyah berkali-kali disebut.…Usir orang Ahmadiyah dari Gegerung. Kalau masyarakat disini tidak mampu mengusir, saya akan mendatangkan masyarakat dari tempat lain untuk mengusir mereka… Darah Ahmadiyah itu halal!” (hal. 223)

Perbedaan-perbedaan di bulan Ramadan rawan menimbulkan konflik sosial di dalam masyarakat muslim yang heterogen. Pengelolaan konflik dan rekonsiliasi adalah proses yang harus dikedepankan dengan tetap menjaga hak-hak masing individu ataupun organisasi. Sastra merekam hal itu semua dengan apa adanya dan tanpa tedeng aling-aling; mulai gejolak psikologis individu hingga dampak sosial yang akut. Membaca karya sastra bukanlah untuk mendramatisir konflik, namun melihat konflik dari jarak yang dekat lalu mengupayakan toleransi untuk kehidupan keberagamaan dan kebangsaan yang lebih baik. Karena, menjadi muslim adalah mengakrabi perbedaan-perbedaan, pun menjadi Indonesia adalah berdamai dengan ketidaksamaan.

Akhirnya, Ramadan dalam catatan para pengarang adalah catatan akan tradisi keberagamaan,  konflik sosial dan pesan pembebasan bulan ini untuk menciptakan kehidupan beragama dan relasi sosial yang lebih baik.*

Pernah dimuat di Malang Pos pada edisi 24 Januari 2019