Mengenang Kisah Seseorang Melalui Tulisan

Judul: Kematian Anda Yang Tak Sia-Sia
Penerbit: DIVA Press
Penulis: Alfian Dippahatang
Cetakan: I, Mei 2018
Tebal: 212 halaman
ISBN: 978-602-391-546-0


Apa yang bisa dikenang dari seseorang yang telah meninggalkan dunia ini? Selain perbuatan-perbuatannya selama hidup, karya-karya inspiratif yang dihasilkannya akan menjadi peninggalan yang sangat berarti. Apalagi jika karya-karya itu memiliki manfaat dan memberikan motivasi bagi sesama untuk juga menciptakan karya. Banyak orang di jagat ini yang hingga kini masih terus diingat, karena karya-karyanya berpengaruh bagi masyarakat. Seorang pelukis akan meninggalkan lukisan yang bisa mengantarkan penikmatnya untuk menyelami karakter seseorang dan juga beragam fenomena. Pencipta lagu akan dikenang karena keindahan lirik yang dia ciptakan. Seorang dramawan akan diingat oleh para penonton karena pertunjukan yang dia sungguhkan di atas panggung. Pengarang akan diabadikan oleh para pembaca karyanya. Kisah-kisah yang ditulisnya menjadi refleksi dari kehidupan yang penuh dinamika suka dan duka.

Melalui novelnya yang berjudul “Kematian Anda Yang Tak Sia-Sia”, Alfian Dippahatang bercerita tentang seorang dara bernama Anda Ruapandewi yang sebelum kematiannya menuliskan suara hatinya dalam bentuk catatan dari dari waktu ke waktu. Tulisan berbentuk seperti Diari ini berisi ungkapan perasaan cintanya pada seorang pemuda yang ia sebut sebagai ‘Lelakiku’. Mereka berdua sama-sama menyukai dunia tulis-menulis dan senang membaca berbagai buku mulai karya sastra dan filsafat. Dipertemukan dalam ketertarikan yang relatif sama, yaitu khazanah dunia kreatif dan pemikiran, dua insan ini mampu menjalin kedekatan penuh makna. Dalam berbagai kesempatan mereka bertemu dan berdiskusi tentang cara membuat tulisan yang baik. Salah satu alasan Ruapandewi jatuh cinta karena pemuda pujaannya itu memiliki karya.“Tahukah kau mengapa aku menyayangimu? Karena kau menulis” (hlm. 93). Kemampuan menulis merupakan nilai lebih dari seseorang yang bisa menginspirasi bahkan memikat orang lain. Narasi fenomena dengan sentuhan-sentuhan sastrawi bisa mengalirkan pengalaman apresiasi tersendiri bagi pembaca. Sempat menjalin cinta, keduanya akhirnya dipisahkan oleh kematian Ruapandewi yang tragis. Sebuah pertemuan antar pecinta sastra yang menarik diabadikan, meskipun perpisahan mereka terasa getir untuk diceritakan.

Perasaan yang dimiliki Ruapandewi dituangkan dalam berbagai catatan yang mencerminkan rasa kagum, cemburu, bersalah, sedih dan bahagia. Catatan-catatan gadis yang akhirnya meninggal karena tak lagi mampu berjuang melawan penyakitnya ini sangat menarik. Hal ini karena dalam catatan-catatannya tercantum banyak sekali referensi dari karya para penulis besar dunia seperti Hegel, George Orwell, Borges, dan Indonesia seperti W.S Rendra dan Chairil Anwar. Persinggungan Ruapandewi dengan para penulis dunia dan Indonesia ini menunjukkan bahwa dia memiliki cakrawala luas, menembus batas dan sekat antar bangsa. Kutipan-kutipan itu digunakan untuk memperkuat tulisan tentang kisah cinta Ruapandewi dan kekasihnya sehingga terkesan romantis dan penuh arti.

Alfian Dippahatang melalui novelnya ini menunjukkan pengetahuan dan ketertarikannya dalam dunia sastra, baik dunia dan Indonesia. Lebih jauh, Alfian juga memberikan kesan bahwa sebagai novelis, dia telah menelusuri berbagai bacaan dan mengendapkannya sebagai bahan dalam menciptakan karya. Sebagai novelis muda, Alfian seperti juga ingin menegaskan bahwa seorang pengarang yang hidup di era sekarang perlu belajar dari para pengarang sebelumnya. Dengan demikian, karya yang dilahirkan pengarang yang berproses hari-hari ini akan kaya dengan pemikiran dan kecenderungan dalam daya ungkap dan gaya.

Diari Ruapandewi telah mengantarkan pembaca pada kesan bahwa menceritakan pengalaman melalui tulisan membuat hidup seseorang menjadi tak sia-sia karena orang lain akan bisa belajar dari tulisan tersebut. Selain itu catatan-catatan tersebut juga berisi berbagai kritik tentang kehidupan kampus dan pendidikan, kerusakan lingkungan, dan tindakan tidak adil yang dialami anggota masyarakat. Kritik-kritik ini menunjukkan bahwa Ruapandewi memiliki kepekaaan dan kepedulian pada kondisi lingkungan dan bangsa ini.

Catatan tersebut juga merupakan cara yang dilakukan Ruapandewi untuk belajar menulis dan menghasilkan karya. “Di belakangmu, kau tak tahu bahwa aku terus mempersiapkan diri untuk menulis” (hlm. 107). Catatan inilah yang ditinggalkan oleh Ruapandewi dan diberikan kepada kekasihnya setelah sang gadis meninggal. Ungkapan hati dalam tulisan tersebut menguak rahasia perasaan dan berbagai kesan yang dipendam oleh Ruapandewi. Sebuah catatan yang ditunjukkan oleh Ruapandewi untuk menegaskan komitmennya dalam menuliskan kesan, pengalaman hidup dan juga perjalanan cinta serta ekspresi perasaannya yang dalam. Dalam catatan itu tertulis sebuah kalimat penuh makna “Aku pergi, agar kau tahu betapa berartinya sebuah kehadiran. Memang ada baiknya kepergiaanku ini. Jika aku masih ada di dekatmu, mungkin rahasia ini tak bisa kau ketahui dan mungkin akan aku pendam selamanya.” (hlm.43). Kehadiran dan kepergian seperti dua sisi dalam kepingan uang logam, tak bisa dipisahkan, selalu menghiasi kehidupan seseorang. Seluruh catatan Ruapandewi pada akhirnya dijadikan novel oleh sahabatnya yang bernama Renada. Novel itulah yang membuat kisah Anda Ruapandewi dikenang oleh pembacanya, menjadi refleksi atas apa yang telah terjadi di waktu lalu, namun tetap akan menjadi inspirasi di masa yang akan datang.