LIONS atawa SIMBA: Tak Hanya Berbagi, Tapi Juga Ikut Memiliki

Baru-baru ini seorang ustadz diperkarakan karena tuduhan menyebar berita yang belakangan diketahui sebagai hoaks. Tapi dia mengatakan bahwa yang dia lakukan hanyalah mengutip berita yang ada di sosial media. Hal serupa juga kerap ditemui di grup-grup WA kita. Kalau si penyebar hoaks itu akhirnya mengakui kesalahan, meminta maaf, dan kemudian berjanji akan lebih berhati-hati, itu rahmat.

Tapi, kalau mereka hanya diam saja dan move on dengan urusan hidup yang lain hingga kelak muncul lagi di lini masa atau notifikasi grup WA untuk menyebar hoaks lagi, jelas itu musibah. Baik yang minta maaf maupun yang tidak, keduanya telah menunjukkan sikap kurang bertanggung jawab terhadap informasi yang mereka dapatkan. Kalau boleh menawarkan, saya menyebut fenomena ini sebagai “Fenomena Like and Share.”

Dan ini perlu didisrupsi. Atau, kalau kata “disrupsi” dirasa terlalu berlebihan, saya akan gunakan kata diinterupsi, disela. Daripada “Like and Share,” kita lebih perlu melakukan “Like, Own, and Share” (LIONS). Atau kalau Anda berkenan menggunakan istilah terjemahannya, kita perlu melakukan “Sukai, Ikut Miliki, dan Bagi” (SIMBA). “Ikut memiliki” inilah yang mungkin bisa menjadi alternatif panasea untuk “Fenomena Like and Share” dengan segala rancun dan dampaknya itu.

Argumen yang ingin saya tawarkan adalah: Kira-kira, saat seseorang “ikut memiliki” (bukan hanya memiliki seorang diri, tapi memiliki bersama orang lain) maka dia pun semestinya “ikut bertanggungjawab.” Dengan tidak hanya menyampaikan informasi dari satu sumber ke sumber yang lain. Tapi, dengan menelaah, mengkritisi, dan menyajikan ulang dengan gaya sendiri, penyebaran hoaks yang cepat bisa dihindari.

Tentu saja ini bukan barang baru. Hampir semua penulis, seniman, dan pemikir mengamalkan ini, khususnya mereka yang dalam pekerjaannya tidak lepas dari membaca dan menulis. Para penulis dan seniman ini adalah orang yang tidak bisa benar-benar terlepas dari tradisi tanpa harus terkekang oleh tradisi. Karya yang mereka ciptakan memang tidak boleh terlepas dari tradisi atau hal-hal yang sudah dipegang dan dilakukan oleh penulis dan seniman sebelumnya, meskipun karya tulis atau karya seni yang mereka hasilkan nantinya baru bertentangan dengan karya-karya pendahulu tersebut.

Di bagian akhir yang berbicara tentang peran sastra dalam literasi, Prof. Djoko Saryono di dalam esai panjangnya di buku Literasi: Episentrum Kemajuan Kebudayaan dan Peradabanmenerangkan bahwa otentisitas karya sastra macam itu hanya bisa terwujud dengan gabungan antara imajinasi literar dan kemampuan kritis-kreatif. Yang semacam ini mustahil terjadi hanya dengan Like and Share. Yang diperlukan adalah menyukai informasi dan kemudian mengolahnya. Karena si penulis juga memiliki kesadaran ikut memiliki informasi tersebut. Dan baru kemudian membaginya dengan pembaca.

Salah satu contoh paling gres dan cukup ekstrim dari usaha ikut memiliki ini bisa kita temukan saat membaca novela Raymond Carver Terkubur Mi Instan karya Faisal Oddang, penulis yang baru-baru ini mampir di Malang dalam rangka road show bukunya. Faisal oddang menyukai, memiliki, dan membagi Raymond Carver (dalam konteks esai ini, sebut saja Faisal Oddang MENYIMBA Raymond Carver). Dan yang DISIMBA itu bukan hanya Raymond Carver sebagai sesosok manusia yang memiliki kisah hidupnya saja. Tapi juga karya-karya penting Raymond Carver.

Raymond Carver ini dia sukai dan telusuri karya-karya dan kisah hidupnya. Namun, sebagai penulis fiksi, Faisal Oddang bisa melakukan apa saja terhadap sumber inspirasinya, asalkan itu mematuhi logika cerita yang dibangun. Maka, yang kita dapatkan selanjutnya adalah kisah ganjil yang cukup menggairahkan: seorang penulis Indonesia di Iowa City, Amerika Serikat, didatangi Raymond Carver, seorang penulis yang dikira orang sudah mati tahun 1988 tapi ternyata masih hidup.

Raymond Carver ini meminta si tokoh utama agar membunuhnya karena merasa hidupnya tidak lagi berarti. Di buku itu, tidak sulit kita mengetahui bahwa Faisal Oddang ini memang menyukai karya-karya Raymond Carver dan mengetahui kisah hidupnya dari berbagai sumber. Tapi, alih-alih langsung menceritakannya kepada orang, Faisal Oddang ikut memiliki informasi terkait Raymond Carver (kisah hidup dan karya-karyanya), mengolahnya dengan bahan dan bumbu berupa pemikiran dan imajinasi.

Dan pada akhirnya, setelah racikan itu dia anggap sudah pas dan purna, dia bagi karya itu kepada pembacanya. Dan ketika tersampaikan ke tangan pembaca, Raymond Carver dalam buku itu bukan lagi sepenuhnya Raymond Carver. Raymond Carver historis masih ada, tapi Raymond Carver ini sudah mengandung Faisal Oddang. Ada Faisal Oddang dalam Raymond Carver di buku ini. Raymond Carver ini sudah hasil SIMBAAN Faisal Oddang.

Nah, karena Raymond Carver versi buku ini tidak lagi bisa dikontrol begitu terlepas dari tangan Faisal Oddang, maka selanjutnya giliran pembaca yang bisa ikut memiliki Raymond Carver. Dan ada berbagai cara tak terbatas untuk ikut memiliki Raymond Carver ini. Kita bisa menafsirkan Raymond Carver sebagai orang yang menjengkelkan, yang suka menyinyiri segala hal yang dia anggap tidak menarik.

Kita juga bisa pandang dia sebagai orang yang tidak bisa menerima kenyataan sehingga melakukan banyak hal ganjil seperti misalnya meminta orang lain untuk membunuhnya. Atau, kalau kita ingin membaca novel ini dan menghubungkannya dengan manusia secara universal, kita bisa menafsirkan Carver ini sebagai representasi orang yang suka melarikan diri dan menghindar. Dia bisa dipahami sebagai orang yang suka melarikan diri saat ada masalah yang terlalu pelik.

Dia bisa dibandingkan dengan sosok manusia yang “mewaktu,” yang mau menjalani berbagai masalah dan berjuang menyelesaikannya karena toh tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Atau, kita bisa juga menghubungkan Raymond Carver ini dengan kondisi depresi yang bisa sampai berujung keinginan untuk meninggalkan dunia. Pendeknya, kita bisa menyukai dan ikut memiliki Raymond Carver ini dengan cara apapun tanpa seorang pun bisa mencegahnya. Tapi, kalau kita harus menyampaikan Raymond Carver versi kita itu, kita tetap dituntut untuk bisa menunjukkan buktinya dari buku tersebut.

Tentu saja itu hanya contoh-contoh sederhana saja dari usaha ikut memiliki Raymond Carver Terkubur Mi Instan. Pembacaan-pembacaan itu hanya berdasarkan awal dari buku ini. Kalau Anda berkesempatan untuk membaca lebih jauh, saya yakin Anda akan sampai pada penafsiran-penafsiran yang lebih menggairahkan. Misalnya, terkait pandangan tentang kenyataan dan kehidupan yang ganjil. Sebagaimana dikutip Faisal Oddang di awal buku ini. Kalau ini dibahas juga, bisa-bisa tulisan ini akan semakin menyimpang dari relnya.

Intinya, novel Raymond Carver Terkubur Mi Instan ini adalah contoh ekstrim yang bagus dari upaya ikut memiliki yang dilakukan oleh seorang penulis. Dengan ikut memiliki ini, yang kita dapatkan bukanlah pengulangan atas biografi Raymond Carver, tapi sebuah cerita baru tentang Raymond Carver yang lain. Faisal Oddang tidak ikut melanjutkan gosip-gosip atau informasi bohong tentang Raymond Carver. Tapi dia menghadirkan Raymond Carver baru yang pas untuk menyampaikan hasil upaya kritis-kreatifnya.

Namun, sidang pembaca, kurang bijak rasanya kalau kita membahas satu contoh saja. Dan kurang lengkap juga kalau kita mengabaikan satu fenomena yang tampak jelas di depan mata kita. Yaitu film-film adaptasi produksi Hollywood yang juga kental dengan jurus tiga langkah SIMBA. Para sineas Hollywood telah melakukan banyak sekali adaptasi atas novel, komik, urban legend, kisah nyata dan sebagainya.

Yang tampak jelas di depan mata adalah, para sineas itu berani ikut memiliki teks-teks yang mereka adaptasi tersebut. Hasil menariknya adalah: meskipun cerita-cerita yang hadir di Marvel Cinematic Universe atau DC Comic Universe itu memiliki akar di komik-komik terbitan Marvel dan DC, kita tetap bisa merasakan keterkejutan dan kita tetap tidak mau diberi bocoran plot film-film tersebut.

Para sineas ini menyukai, ikut memiliki kisahnya dan memutuskan elemen-elemen yang layak dipertahankan, disoroti, diganti, dan dimodifikasi sedemikian rupa untuk disesuaikan dengan tujuan mereka. Alhasil, saat kisah tersebut dibagi ke hadapan penonton bioskop maupun streaming, orang yang mengikuti komik asalnya tetap bisa merasakan kejutan dan kebaruan.

Dan orang yang belum pernah kenal komiknya tetap bisa merasakan cerita utuh dan tersedot dalam cerita film-film tersebut. Bahkan, saking hebatnya, kita lazimnya tidak menganggap film-film Marvel Cinematic Universe itu sebagai film adaptasi. Kita bisa tidak memperhatikan bahwa film tersebut adalah hasil SIMBA-an.

Hal yang sama bisa kita temukan dalam film-film adaptasi Hollywood yang lain. Bahkan film yang diadaptasi dari kisah nyata. Seperti film tahun 2017 berjudul American Made yang dibintangi Tom Cruise baru-baru ini. Yang berkisah tentang Barry Seal, seorang pilot yang mencari uang dengan menjadi agen ganda, untuk CIA (badan penanggulangan narkotika) dan untuk Kartel Medellin yang didirikan Pablo Escobar yang terkenal itu. Pembuat film ini tidak mengambil begitu saja kisah hidup Barry Seal. Tapi mengolahnya dengan berbagai modifikasi untuk menjadikannya sebuah film utuh yang bisa menggairahkan penontonnya seperti kisah fiksi yang sepenuhnya fiksi.

Dari para prosais dan penulis cerita film inilah semestinya kita belajar. Para penulis ini melakukan usaha menyukai (yang menuntun mereka untuk memahami dan menelusuri), ikut memiliki (yang membuat mereka mau memasukkan sebagian dari diri mereka ke sana), dan akhirnya membagikan hasil akhirya kepada orang lain. Sehingga, kalau karya mereka bagus, mereka akan turut mendapatkan hadiahnya.

Dan ketika ada yang menggugat hal tersebut, mereka tetap bisa berbicara. Bukan malah mencuci tangan dan menyalahkan orang lain dan mengaku hanya menyampaikan saja. Jangan ada lagi Like and Share di antara kita. Mari LIONS (Like, Own, and Share).

Omong-omong, bagaimana dengan film Bumi Manusia yang trailernya sudah bersliweran di media sosial itu? Kritikus film Arie Saptaji bertanya di Twitter: Apakah akan ada plot twist dalam film Bumi Manusia? Saya tidak pernah tanya langsung apa yang melatarbelakangi pertanyaan ini. Saya khawatir itu karena kurangnya SIMBA dalam film adaptasi di Indonesia. Saya tidak tahu soal itu.

Tapi dengan tafsiran demikian, saya menjawab pertanyaan mas Arie dengan guyon juga: “Bumi Manusia yang digarap Russo bersaudara bisa jadi ada plot twistnya.” Tapi sudahlah, tugas kita hanya menunggu dan terus MENYIMBA. Sebelum karyanya muncul, tidak ada alasan untuk iya atau tidak menyukai, ikut memiliki dan membagi.

 

Pernah disiarkan di Terakota.id pada 14 Juli 2019