Mengantar Wahyu Prasetya Kembali ke Bintaro

Wahyu Prasetya atau yang karib dipanggil dengan nama ‘Pungky’ merupakan penyair yang terkenal sebagai penyair yang total dalam segala–baik bersastra, berkesenian maupun mabuk-mabukan. Ia pernah menjadi bagian dari sosok penting pada era 80-an dalam kesusastraan di Indonesia, khususnya puisi. Bagi kami, Wahyu Prasetya–yang kini telah almarhum–bukan hanya sosok penting dalam kesusastraan di Indonesia, melainkan semangat bersastra dan berkesenian di kota Malang. Kita bisa mengingat, usia waktu pernah mencatat Batu–yang saat itu masih menjadi bagian dari Malang Raya–memiliki semangat bersastra dan berkesenian dari Wahyu Prasetya. Tak ada Wahyu, tak ada pula acara Kebangkitan Nasional yang merupakan bagian penting dalam sejarah kesusastraan di Jawa Timur.

Buku puisi yang berjudul Wahyu Menulis Puisi merupakan ikhtiar kami mendokumentasikan teks-teks puisi Wahyu Prasetya. Pelangi Sastra sebagai komunitas yang lahir, berkegiatan, dan berkarya di Malang bukan tak mungkin jika tak mengarsipkan puisi-puisi Wahyu Prasetya. Setidaknya, kami mencatat dan berupaya menjadi penghubung kembali pada generasi saat ini bahwa Wahyu Prasetya pernah ada, dan puisi-puisinya patut untuk dibaca, dikaji, dan dikembarakan ke mana-mana–walau buku Apa & Siapa Penyair Indonesia yang diterbitkan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia luput dari pembacaan dan pencatatan nama Wahyu Prasetya.

Sebelumnya, kami telah meluncurkan buku Wahyu Menulis Puisi yang berjumlah 211 judul puisi ini di Kafe Pustaka yang dihadiri oleh Prof. Djoko Saryono, Bambang Widiatmoko, dan Dewi (istri Wahyu Prasetya) pada 16 Maret 2019. Selain itu, kami juga telah mengantarkan Wahyu Menulis Puisi untuk didiskusikan di Galeri DKS, Balai Pemuda Surabaya, pada 29 Maret 2019, oleh Indra Tjahyadi dan Tengsoe Tjahjono.

Usai Forum Penyair Indonesia 1987 di TIM, Remmy Novaris, Wahyu P, Nanang, Irawan Sandhya Wiraatmaja juga Arief Joko Wicaksono mendirikan Komunitas Bintaro, menggunakan rumah Wahyu yang belum lama pindah dari Dumai ke Bintaro. Sebagaimana komunitas yang lagi marak era itu, Komunitas Bintaro juga rajin mengadakan pertemuan, diskusi sastra sampai larut malam.

Kini, kami ingin mengantar dan mengabarkan pada generasi saat ini yang bermukim dan berkarya di Bintaro bahwa Komunitas Bintaro yang pernah menjadi bagian kecil dalam kesusastraan, di dalamnya ada sosok yang besar. Bagaimanapun, mengantarkan Wahyu Menulis Puisi pulang ke Bintaro menjadi upaya kami membuat Wahyu Prasetya tersenyum melihat kami mewarisi semangat bersastranya.