Belajar Mabuk

foto: penerbit pelangi sastra

 

Puisi tidak merubah zaman, kata seorang bijak. Bisa benar, bisa juga salah. Tergantung bagaimana puisi diperlakukan dan memperlakukan dirinya sendiri. Tergantung bagaimana mental, karakter, etos, spirit, dan komitmen pencipta atau pembacanya. Puisi hanya alat, ia adalah perpanjangan tangan dari manusia–Khalifah yang dititipi tugas pengelolaan alam semesta oleh Tuhan. Yang dikelola tentu apa saja, dari masalah cuci piring sampai teknologi peradaban. Dan puisi berada di dalam proses dinamika pengelolaan dan penataan itu sebagai alat. Manusia subjeknya, dialah yang mengatur alat itu akan digunakan untuk apa dan didayagunakan ke arah mana.

Seberapa kadar potensi dan fungsi puisi bisa digunakan sebagai alat memasak kehidupan, itulah yang terus menerus kita cari dari/dengan puisi. Masalahnya apakah bisa kita temukan jawaban itu dari seorang pengguna narkoba, pemabuk, penghuni jagat kelam? Kurang lebih seperti itulah ‘pakaian’ alm. Wahyu Prasetya si penyair nyentrik dari Malang merunut dari penuturuan istrinya, Ibu Dewi. Seorang kerabatnya menyebut proses hidup kupu-kupu untuk menggambarkan rangkaian fase hidupnya.

Tetapi siapa boleh meremehkan siapa? Atas dasar legitimasi apa manusia memandang rendah makhluk lainnya? Padahal lebah pun oleh Tuhan diberi wahyu, apalagi Wahyu. Padahal cacing yang menjijikkan bisa memberi gambur pada tanah. Padahal ludah yang dianggap hina dan dihindari oleh wajah manusia mengandung enzim untuk memproses makanan yang masuk ke dalam perut manusia. Padahal, padahal, padahal…

Apakah kalau Wahyu adalah seorang pengguna narkoba, ia tak bisa melek terhadap gejala busuk dari sebuah zaman yang bersujud kepada dewa kapitalisme-materialistik? Coba lihat:

Tapi di kanvas hidup ini, wahyu tak bisa mengeja tuhan-tuhan
Dari seng, plastik, kristal, atau syahwat

(Mendengar Anakku Belajar Mengaji, 1991-1992)

Apakah kalau Wahyu adalah seorang pemabuk, jiwanya benar-benar limbung serta pandangannya kabur? Coba tengok:

Alam tak mati. Hidup tak mati. Pada jiwa terangkai.
Ke amalan dari takwa yang panjang, mencari apakah?
Ketulusan yang terganjal, mendaki siapakah?
Kepada alamat-Mu kesejatian segala

(Surat Pujangga, 1990-1991)

Apakah kalau Wahyu mengumpat “damput!”, “bangsat!”, “bajingan!”, lantas ia menjadi orang yang paling kotor sekaligus tidak sopan terhadap kehidupan? Coba simak:

Aku tak lagi ingin berebut dengan-Mu
Dengan pisau yang kuacungkan mengancam rezki yang Kau
Sodorkan,
Aku tak lagi ingin merampok-Mu,
Dengan air mata dan jiwa yang lembek seperti lumpur asalku.

(Kasidah Sendiri, 1990)

Apakah Wahyu putus asa kepada laju sejarah sehingga dia mengganti Tuhan dengan pil dan alkohol? Dengan ganja dan botol-botol? Apakah Wahyu benar-benar membuang Allah, pemilik seluruh alam? Coba saksikan:

Jadi kepada siapa selain yang mencipta hidup – mati,
Gelap dan pagi hari; sebelum sekarat karena pil atau aids, terserah maumu.
Karena sungguh. Di aorta leher. Allah dekat.
Allah amat dekat. Paling.

(Kepada, 1997)

Juga baiknya tak usah coba-coba nakal dengan mengucapkan: kalau begitu, untuk meresapi Tuhan dan kehidupan, mari jadi pengguna narkoba dan mabuk-mabukan! Tentu ada dua kesalahan. Pertama, kalian bukan Wahyu. Dan kedua, Wahyu bukan kalian. Seperti sidik jari, manusia memiliki garisnya sendiri-sendiri. Manusia lahir otentik, Tuhan yang putuskan dalam tata keseimbangan. Patuhi saja, atau silakan melanggar dengan kesiapan untuk menanggung resiko.

Pada suatu hari Wahyu menolak pindah ke Jakarta, dia berseru: “Kalau kau penyair, lahir di Malang, hidup serta bersastralah dari dan untuk kotamu Malang!”. Kurang lebih begitu bunyinya. Saat itu, Jakarta serupa ‘tangan Tuhan’, legitimator kepenyairan atau kesastrawanan seseorang. Diakui Jakarta sama dengan diakui Indonesia. Sementara Wahyu menolak kecongkakan semacam itu. Wahyu bersetia kepada garis dan otentisitas yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Wahyu seolah berkata, kalau kamu kambing, jangan bercita-cita terbang. Kalau kamu elang, jangan mengembik. Juga tak perlu ada rasa minder di antara kambing dan elang. Masing-masing silakan menjadi masing-masing tanpa mereweli masing-masing.

Ya ampun, mbah Wahyu. Terima kasih sudah mewarisi nilai-nilai itu. Betapa kami sangat bersyukur. Puisi tak sekadar menjadi puisi di mata kami. Ia menjadi alat hijrah kami, yang bukan sebatas hijrah pakaian, hijrah aksen tutur mulut, atau hijrah simbolik remeh temeh lainnya. Tetapi hijrah yang sebenarnya, dari kepadatan, kebekuan, kekolotan menuju kelunakan serta kelenturan. Sebagaimana botol bir pecah menjadi kepingan dzikir dan sholawat hidupmu. Dan sholatmu tegak di akhir hayat. Sebagaimana sajak-sajakmu yang tegak menatap Allah. Sublim. Betapa manusia amat perlu untuk sublim sepertimu. Agar sanggup menjadi Khalifah, menata kehidupan di antara sesama kami dengan kelenturan cinta dan jiwa yang lunak. Agar sanggup juga kita katakan, bahwa puisi bukan sekadar mainan. Bahwa puisi, pasti juga bisa merubah zaman.

Andaikan untuk mencapainya harus terlebih dahulu mabuk, kita akan belajar kepada Wahyu Prasetya cara mabuk yang benar. Mabuk yang berada di garis kesejatian. Mabuk yang telungkup di pangkuan Tuhan: tempat di mana saat ini Wahyu menulis puisi dengan tenang.

 

Pamulang, 30 Juli 2019.