Mother-Centered Culture dalam Novela Silsilah Duka Karya Dwi Ratih Ramadhany

foto: aquarina kharisma sari

Saat ini, banjir naskah di meja redaktur sepertinya menjadi penyebab keniscayaan bahwa suatu cerita harus menghentak di awal, bahkan sejak paragraf pertama. Mungkin berdasarkan itu pula, penulis-penulis jaman sekarang merasa harus menyuguhkan klimaks di awal, untuk kemudian berkilas balik ke pengenalan cerita.

Novela Silsilah Duka diawali dengan adegan kematian Ramlah yang mengundang tanya, dengan bumbu-bumbu “luka” “perban” dan “tangis” yang miris, dan adegan mengkhafani jenazah; sangat suram dan agak surealistis.

MELAMPAUI NARASI TUNGGAL

Narasi yang diulang-ulang menciptakan stereotip tentang orang-orang tertentu, dan masyarakat tertentu. Narasi ini kemudian menjadi satu-satunya, sehingga disebut narasi tunggal (single narratives). Katakanlah, narasi tentang betapa patriarkal masyarakat tradisional, dan tokoh-tokoh wanita dalam cerita yang selalu dijajah pria. Sampai-sampai, kalau tidak begitu, dianggap kurang nyastra.

Banyak yang merasa bahwa sastra haruslah tragis, baiklah…, sah-sah saja itu. Tetapi perbedaannya, di dalam sastra yang tragis itu, tokoh-tokoh wanita diposisikan oleh penulis sebagai victim atau agent?

Narasi bahwa Madura adalah masyarakat patriarkal, dengan hegemoni laki-laki yang kental, dan kultur Islam yang memposisikan laki-laki lebih tinggi, dibalikkan dengan sangat elegan dalam novela ini. Gaya elegan itu tercipta justru karena Dwi Ratih Ramadhany tidak menyadari bahwa ia sedang membalik sebuah narasi besar (hasil bincang singkat saya dengannya). Ia mengatakan “Karena itulah yang saya lihat.” Ia melihat, merasakan, dan mengobservasi, dan dengan sendirinya, tanpa ia sadari, melampaui teks-teks dan mungkin teori-teori dominan selama ini tentang masyarakatnya.

MOTHER-CENTERED CULTURE

Erich Fromm menjelaskan tentang mother-centered culture (kebudayaan yang terpusat-pada-ibu) di mana ibu menjadi pusat penghormatan dan kekuasaan. Wanita, atau sifat feminin, dikaitkan dengan alam, baik itu agraris maupun laut. Maka, dalam masyarakat yang berbasis pertanian atau laut, posisi wanita, terutama yang menjadi ibu, tinggi dan ditinggikan.

Kuatnya posisi ibu digambarkan melalui dominasi tokoh Ebo’ (“ibu” dalam bahasa Madura). Ebo’ Juhairiyah sejak awal menguasai Farid, anaknya, dan memposisikan menantunya, Ramlah, sebagai rival. Konflik di dalam cerita terjadi di seputar Ebo’; ia menjadi sebab-akibat, bahkan, ia adalah plot itu sendiri.

Ciri kebudayaan yang terpusat-pada-ibu juga tampak dari karakter anak laki-laki. Kuatnya dominasi ibu menjadikan anak laki-laki tidak bisa (atau tidak mau) keluar dari fase infantil menuju kedewasaan. Ia nyaman dengan dominasi ibunya, ia tinggal di rumah ibunya, rahim ibunya. Ini menjadi masalah saat ia memasuki masa dewasa. Ia tak tahu bagaimana memperlakukan wanita yang ia cintai. Ia tak mampu menjadi dewasa, karena menjadi dewasa berarti menjadi ayah. Ia tak mampu menjadi ayah, karena ia benci ayah, karena ayah adalah rivalnya. Meskipun ibu menyakitinya, namun ia nyaman dalam rahim ibu dan perlindungan ibu.

Farid tampak sebagai anak laki-laki semacam itu, mengidap Oedipus complex, dan ini lazim terjadi pada kebudayaan yang terpusat-pada-ibu, akibat kuatnya dominasi ibu dan lemahnya posisi ayah. Menariknya, Islam, yang kerap dianggap sebagai pembawa patriarki ke dalam masyarakat tradisional, justru menjadi sumber legitimasi atas kuatnya posisi ibu.

“Surga itu di bawah kaki Ebo’ ini! Kalau kamu nyakitin hati Ebo’, neraka tempatmu (hal. 94).” Farid juga menasehati adiknya, Kholila, agar meminta maaf kepada Ebo’: “Doa seorang ibu itu lebih cepat sampai ke Tuhan dan mudah dikabulkan” (hal. 120).

Ketika para feminis muslim di luar negeri berjuang menguatkan intepretasi teks keagamaan dari sudut pandang wanita, di sini Dwi Ratih Ramadhany justru menggambarkan betapa bebas wanita melakukannya. Misalnya saat tokoh Kholila menasehati keponakannya, Majang, tentang menstruasi: “Nggak usah takut dosa karena nggak boleh salat saat menstruasi. Justru kamu dapat libur dari Allah” (hal. 28). Dengan kata lain, bagi Kholila, Allah memanjakan wanita dengan memberinya liburan; menstruasi bukan hukuman, bukan kotoran, yang menjadi sebab wanita dilarang beribadah kepada Tuhan dan haram disentuh.

SEXUALLY LIBERATED WOMEN

Sekian dekade lalu, kemunculan penulis-penulis wanita disebut-sebut “mendobrak” karena berani mengangkat tokoh-tokoh wanita yang “merdeka secara seksual.” “Merdeka” didefinisikan sebagai seks di luar pernikahan atau mempunyai partner seksual lebih dari satu atau menerabas norma lama tentang seks. Umumnya, tokoh-tokoh wanita yang “merdeka” secara seksual ini, adalah kaum urban, hidup di perkotaan, sekuler. Lalu terciptalah dikotomi. Wanita tradisional digambarkan kebalikannya: lugu, pasrah, menjadi obyek seks, dikawin-paksa, atau dipoligami dengan sengsara, dengan kata lain: tidak mandiri, tidak merdeka secara seksual.

Sesungguhnya, wanita yang merdeka secara seksual adalah ia yang mampu menghendaki, mampu memutuskan akan menjalani hidup yang bagaimana, dengan lelaki yang bagaimana dan siapa. Ramlah menginginkan Farid, ingin bercinta dengan Farid, ingin hidup dengan Farid. Kalau tidak dengan Farid, ia bisa menata lagi untuk lelaki lain.

Optimisme saya bersemi sejak halaman 14. Di sini, Ramlah ngotot ingin segera dilamar Farid kekasihnya. Ramlah berkata, “Saya nggak mau nangis-nangis minta dinikahi. Iman saya juga nggak seberapa untuk sombong ngomongin zina. Ya, memang takut dosa, sedikit, sih. Tapi kalau memang cinta, bikin janji sama Allah langsung. Kita menikah atau Mas Farid berhenti dekati saya” (hal. 15).

Wanita tradisional yang kerap digambarkan pasrah, tak berpendidikan, tak punya daya bila berhadapan dengan laki-laki, bisa negesi (menyuruh tegas) pacarnya, bahkan mengancam. Sedangkan Kholila, untuk melawan dominasi ibunya, bahkan sanggup membuat keputusan secara sadar yang memperlihatkan kemerdekaan seksualnya. “Kholila memanfaatkan Deni (pacarnya) untuk ambisinya mengalahkan ibunya sendiri” (hal. 102).

Di bab-bab terakhir, cerita berkilas balik ke masa muda Ebo’. Juhairiyah muda ini pun memperlihatkan kemerdekaan seksualnya sebagai seorang wanita tradisional: ia memilih lelaki dan masa depan yang ia kehendaki, rajin bersolek, minum jamu supaya suaminya makin lengket; setelah kepercayaan dirinya meningkat, ia menginginkan nafkah lebih dan perhatian lebih, dan mulai melakukan hal-hal berani, tidak pasrah, tidak diam. Wanita-wanita di dalam novela ini aktif secara seksual, tidak pasif.

TETAPI …

Ada dua hal yang saya sayangkan dalam novela ini. (1) Keenganan Dwi Ratih untuk menyebut nama “Madura” di dalam teks. Ia hanya menuliskan: “Jembatan besar dan panjang antara pulaunya dan kota metropolitan yang tak pernah sepi” (hal. 100). Saya masih percaya bahwa sastra adalah sebentuk dokumentasi, maka menuliskan aspek-aspek inti di dalam teks akan menguatkan teks tersebut.

(2) Ebo’ tua adalah wanita yang sangat berkuasa (hal. 63) justru karena ia tradisional. Ketradisionalannya terlihat dalam kepercayaannya pada mitos-mitos, perilaku (menangis ngejjel dan memukul-mukul dada), keyakinannya bahwa Ramlah kesurupan, kurang iman, durhaka tak menurut ibu mertua (66). Namun ketika cerita flash back ke masa mudanya, nuansa tradisional dan karakter tradisional itu malah lenyap. Pembaca justru mendapati sosok yang mirip wanita urban, dengan cara berpikir urban, dan masyarakat sekitar yang mirip masyarakat industri.

EPILOG

Akhirnya, novela yang padat ini, bukan sekadar kisah tentang tragisme dan tragedi. Bila mengajinya dari sisi psiko-sosial, akan kita temukan kekayaan karakter secara individual, sosial, maupun kultural.

Suatu cerita yang menggambarkan kebudayaan yang terpusat-pada-ibu, yang dengan sendirinya melawan narasi tunggal tentang hantu patriarki; dituliskan dengan elegan dan tanpa tendensi muluk-muluk penulisnya. Ia seperti tidak berniat “menunjukkan sesuatu” namun justru dengan begitu ia berhasil menunjukkan itu, dan dengan demikian, membalik narasi tunggal selama ini tentang masyarakatnya, Madura.

 

Pernah disiarkan di mawws.id pada 08 Oktober 2019