Category

Cerpen

Cerpen

Nyanyian Hujan

Genangan awan di langit mengandung rintik hujan yang siap turun segera. Di musim yang tak terprediksi seperti akhir-akhir ini, hujan bisa turun kapan saja. Orang-orang ahli bisa meramalkannya, tapi tidak sepenuhnya bisa memastikan. Kadang kala mereka mengatakan hari ini cerah…

Continue reading
Cerpen

Impian Ibuk

Bagi Ibuk, yang terpenting bukanlah beras yang menggunung di lumbung. Bukan pula sapi gembala yang gemuk-gemuk. Ibuk meletakkan masa depan Tari di atas segala apa. Ibuk tak peduli meski memperjuangkan itu adalah sebuah episode bertaruh yang amat sangat. Aku tak…

Continue reading
Cerpen

Untung Temanku

Mobil patroli plat merah melaju dari arah barat. Kendaraan terbuka berbangku panjang itu berhenti di depan tiang lampu jalan. Seluruh penumpang di bak belakang: petugas ketertiban pemerintah kota dan Polisi berlompatan turun. Puluhan pasang sepatu kulit beralas karet tebal menghempas…

Continue reading
Cerpen

Menanti Blanggur

Langit hampir gelap, namun Aliman dan Yohan masih duduk di salah satu anak tangga di bibir gang kampung. Mata mereka terpaku menatap lagit, pun mata anak-anak lain yang sebaya dengan mereka. Tidak lama, suara ledakan dan percikan api terdengar besusulan….

Continue reading
Cerpen

Membunuh Faisal

Tiap kali selesai membaca tulisannya, saya ingin membuat sebuah karya yang membuat saya lebih terkenal lagi. Oh, saya memang sudah terkenal. Sudah pernah diberi penghargan oleh bapak presiden sebagai penulis berbakat. Sudah dua kali memenangkan sayembara menulis tingkat nasional. Tapi…

Continue reading
Cerpen

Bulan Pagi Hari

Bulan tidak tampak pagi ini. Aku sangat suka bulan di pagi hari. Terlihat sangat pucat dan rapuh. Perubahan warna langit di sekitarnya mempertajam kepucatan warna peraknya. Terlihat indah luar biasa. Seperti sebuah obyek dalam lukisan. Mungkin karena sebentar lagi akan…

Continue reading
Cerpen

Pemilin Kematian

  Perempuan itu tak pernah berharap siapa pun mati setiap hari. Ia bahkan tak ingin menggantungkan hidupnya pada tubuh-tubuh kaku dan ruh mereka yang telah pergi menjauh. Tetapi perempuan itu telanjur menjelma pertanda bagi maut yang menghampiri urat nadi. Apabila…

Continue reading
Cerpen

Pintu yang Terkunci

Ia pergi dengan gayanya yang gagah. Tangannya meraih kemeja dan celana, lantas mengenakannya. Ia sisir rambutnya, ia tuangkan minyak pelicin di atasnya. Laki-laki itu meraih jam tangan di meja sisi ranjang tempatku rebah, menyemprotkan minyak wangi, memungut tas, dan memakai…

Continue reading
Cerpen

Sakura Gugur di Kyoto

AKU dan kau duduk di bawah pohon sakura di tepi Sungai Kamo, Kyoto. Ratusan hari kita berdua menanti sakura yang hanya bisa disaksikan tak lebih dari lima belas hari. “Jika tak memesona ketika mekar sehingga membuat orang-orang yang telah menunggunya kecewa,…

Continue reading